OPINI: Seragam Biru Saya Lipat dengan Bangga!

AVP External Communication Telkom Sabri Rasyid
AVP External Communication Telkom Sabri Rasyid

Transformasi perusahaan yang tak pernah tidur, jadikan waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya pertama kali mengenakan seragam putih biru (1993) dengan penuh semangat dan harapan. Besok 1 Januari 2026, secara resmi saya memasuki masa pensiun dari perusahaan yang telah menjadi rumah kedua saya selama 32 tahun 6 bulan.

Telkom bukan sekadar tempat bekerja bagi saya. Di sinilah saya belajar tentang dedikasi, profesionalisme, dan arti sebuah kebersamaan. Dari teknologi analog hingga era digital, dari kabel kertas hingga fiber optik, dari teknologi wireline hingga wireless (mobile), dari penggelaran kabel darat, udara hingga kabel laut, dari telepon engkol hingga touchscreen, dari layanan telex hingga datacenter, dari telkomnet instan hingga broadband, layanan operator 108/117 hingga AI, dst..saya berkesempatan menjadi saksi sekaligus bagian dari transformasi besar industri telekomunikasi Indonesia.

BACA JUGA:  Telkom Solution Luncurkan Telkom AI Center of Excellence, 'Percepat Adopsi AI di Indonesia'

Bersama rekan-rekan seperjuangan yang luar biasa, Telkom selalu menghadapi berbagai tantangan. Terkadang diminta siapkan proyek sangkuriang ataupun jualan yang bikin meriang karena dikejar target, hingga suka cita ketika berhasil menyelesaikan target bersama. Setiap momen itu kini menjadi kenangan berharga yang akan saya simpan selamanya.

Bacaan Lainnya

Di titik refleksi ini, izinkan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak. Kepada atasan yang pernah saya kecewakan, rekan kerja yang pernah saya sakiti—baik sengaja maupun tidak sengaja—dan kepada semua pihak yang pernah berinteraksi dengan saya.

BACA JUGA:  'Memilih Pemimpin Itu Harus Cerdas ya', HM Rudi Lebih Layak jadi Gubernur Kepri Usai Lihat Debat

Saya sadar, selama perjalanan karir yang panjang ini, pasti ada kata-kata yang kurang berkenan, sikap yang mungkin menyinggung, atau keputusan yang tidak memuaskan semua pihak. Sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan, saya memohon keikhlasan untuk memaafkan segala kesalahan saya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *