26 UMKM Binaan PT MEG Dorong Pertumbuhan Ekonomi Warga Rempang Eco City

Menurutnya, teknik yang digunakan merupakan metode ecoprint, yaitu memindahkan bentuk dan warna alami daun ke atas kain tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya. Selain menghasilkan produk bernilai seni tinggi, teknik tersebut juga ramah lingkungan dan sejalan dengan konsep ekonomi hijau yang kini semakin diminati pasar.

Faiz menjelaskan, proses pembuatan batik dimulai dengan mencuci dan merendam kain terlebih dahulu. Setelah itu, daun-daun pilihan disusun di atas kain, kemudian ditutup dengan lapisan kain lain sebelum digulung dan diikat rapat.

“Setelah digulung rapat, kain kemudian dikukus sekitar empat jam. Kalau proses pengerjaannya lancar, satu lembar kain bisa selesai dalam satu hari,” jelasnya.

Bacaan Lainnya

Produk batik tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp250 ribu per lembar. Meski berasal dari usaha rumahan, produk mereka telah menarik perhatian pasar yang lebih luas, bahkan hingga mancanegara.

Faiz mengungkapkan bahwa pengembangan usaha batik ecoprint di Rempang mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Melalui kerja sama dengan Universitas Internasional Batam (UIB), produk-produk batik tersebut diperkenalkan ke berbagai daerah hingga luar negeri.

Pos terkait