Wanita Tani HKTI Kepri Siap Genjot Produktivitas Pertanian dan Perkuat Ekonomi Daerah

Ia menekankan bahwa perempuan selama ini menjadi aktor penting yang sering bekerja tanpa sorotan, padahal kontribusinya sangat besar dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga.

“Perempuan tidak hanya berperan sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha pangan, petani, nelayan, hingga pelopor lahirnya inovasi di tengah masyarakat. Karena itu pembangunan sektor pertanian harus berjalan seiring dengan pemberdayaan perempuan,” katanya.

Ririn menambahkan, ketika perempuan diberikan akses terhadap pendidikan, pelatihan, permodalan, dan pasar, maka dampaknya tidak hanya memperkuat ekonomi keluarga, tetapi juga membangun ketahanan sosial dan masa depan daerah.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Kepala Dinas Koperasi dan UMKM : 286 Koperasi di Kepri Bakal Dapat Perhatian 'Lebih' dari Pusat dan Daerah

Sementara itu, Ketua Umum DPP Wanita Tani Indonesia, Anita Aryani, menyoroti bahwa isu ketahanan pangan saat ini menjadi prioritas nasional dan tidak dapat dipisahkan dari kontribusi perempuan di sektor pertanian.

Ia menyebut data menunjukkan lebih dari separuh tenaga kerja di sektor pertanian Indonesia merupakan perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung produksi pangan nasional.

“Lebih dari separuh tenaga kerja sektor pertanian Indonesia adalah perempuan. Mereka bangun sebelum fajar, pergi ke sawah, kebun, dan ladang, menopang kehidupan keluarga sekaligus bangsa. Namun kontribusi besar itu sering kali kurang terlihat dan kurang didengar,” ungkap Anita.

BACA JUGA:  Indosat Ooredoo Hutchison Dukung Transformasi Digital di Hari Jadi ke-23 Provinsi Kepri

Menurut Anita, tantangan pertanian Indonesia saat ini semakin kompleks, mulai dari alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi kawasan industri dan pemukiman, dampak perubahan iklim yang mengganggu pola tanam, hingga minimnya regenerasi petani muda.

Ia menilai organisasi Wanita Tani Indonesia hadir sebagai wadah strategis untuk menjawab tantangan tersebut melalui penguatan kapasitas perempuan sebagai pelaku utama pembangunan sektor pertanian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *