Menurutnya, pengembangan “New Nagoya” tidak hanya menitikberatkan pada aspek perdagangan dan pariwisata, tetapi juga mengusung misi pelestarian budaya lokal.
Kawasan Jodoh diproyeksikan menjadi ruang hidup ekonomi yang merepresentasikan sejarah dan dinamika masyarakat Batam, sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Kalau kita bicara wisata belanja yang berbasis budaya, maka harus ada narasi dan identitas yang kuat. Ada ‘perhiasan budaya’ yang melekat pada kawasan tersebut, sehingga menjadi kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, kementerian, dan juga perbankan Himbara agar tujuan bersama ini tercapai,” jelasnya.
Helvi juga menyoroti persoalan klasik yang kerap muncul dalam proyek revitalisasi kawasan, yakni kekhawatiran pelaku UMKM terhadap penggusuran. Ia menegaskan bahwa konsep penataan Jodoh tidak mengarah pada pengusiran pedagang, melainkan penataan dan pengelolaan yang lebih baik.
“Tadi saya tanyakan langsung kepada para pelaku UMKM. Mereka tetap di sini, bukan digusur, tetapi dikelola. Bagaimana kawasan ini menjadi lebih menarik, bersih, tertata, dan memiliki akses yang baik. Ini yang menjadi semangat utama,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada perencanaan teknis yang matang serta komunikasi yang intensif dengan para pelaku usaha. Untuk itu, ke depan akan dibentuk tim teknis lintas instansi yang melibatkan Pemerintah Kota Batam, BP Batam, kementerian terkait, serta pemangku kepentingan lainnya.
