Menurut Rafki, persaingan justru menjadi faktor penting dalam membentuk kinerja bisnis yang efisien dan berkelanjutan.
“Dalam dunia usaha, kehadiran pesaing dari sektor swasta akan mendorong Kopdes Merah Putih menjadi lebih baik. Persaingan menciptakan dorongan untuk meningkatkan kualitas layanan, efisiensi operasional, dan harga yang kompetitif. Jika persaingan dihilangkan, insentif untuk berkinerja lebih baik juga ikut menghilang,” jelasnya.
Rafki juga mengingatkan bahaya ketergantungan berlebihan terhadap fasilitas dan subsidi pemerintah. Ia menilai organisasi bisnis yang terlalu banyak “disuapi” justru berpotensi berjalan lamban dan tidak adaptif terhadap kebutuhan pasar. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat merugikan masyarakat sebagai konsumen.
Alih-alih membatasi ritel modern, Rafki menyarankan agar pemerintah meniru dan mengadopsi praktik bisnis yang telah terbukti berhasil dijalankan oleh Alfamart dan Indomaret.
Salah satunya dengan memangkas rantai pasok dan menghubungkan Kopdes Merah Putih secara langsung dengan pabrik atau produsen utama.
“Dengan modal dan jaringan yang difasilitasi pemerintah, seharusnya Kopdes Merah Putih bisa langsung terkoneksi ke pabrik. Jika rantai pasok lebih pendek, harga jual bisa bersaing dengan minimarket modern, begitu juga dengan kelengkapan barang,” ujarnya.
Selain aspek sistem dan modal, Rafki menekankan pentingnya sumber daya manusia dalam pengelolaan koperasi. Ia menilai pengelola Kopdes Merah Putih harus dilepaskan dari kepentingan politik dan direkrut dari kalangan profesional yang memiliki pengalaman di bisnis ritel.









