US Treasury Mulai Dipertanyakan, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?

IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA – Selama puluhan tahun, surat utang Pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury diperlakukan seperti lemari besi dunia. Negara kaya menyimpan surplusnya di sana, bank sentral menjadikannya sebagai bagian dari cadangan, sementara investor memburunya ketika ketidakpastian meningkat.

Logikanya sederhana: jika Amerika Serikat saja tidak dipercaya, kepada siapa lagi uang dunia harus dititipkan?

Namun, belakangan sejumlah pemilik dana besar mulai kembali memeriksa isi “lemari besi” tersebut. Bukan karena pintunya sudah jebol, melainkan karena penjaganya semakin rajin berutang untuk membayar tagihan lama.

Bacaan Lainnya

Lemari itu masih kokoh, tetapi kuitansi utangnya mulai menumpuk.

Perubahan sikap tersebut terlihat dari sejumlah keputusan pengelola aset besar. Norwegia, misalnya, melalui Norges Bank Investment Management (NBIM), merekomendasikan pengurangan porsi obligasi pemerintah dalam indeks acuannya dari 70 persen menjadi 50 persen. Dampaknya, kepemilikan US Treasury diperkirakan berkurang hampir US$80 miliar dari sekitar US$215 miliar yang dimiliki saat ini.

Di sisi lain, bank sentral Belanda memindahkan sekitar 86 ton emas dari New York dan Ottawa ke London sepanjang Maret hingga Agustus 2026. De Nederlandsche Bank (DNB) menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan menghadapi krisis dan membuat cadangan emas lebih mudah diperdagangkan.

Fenomena tersebut penting. Namun, tidak tepat jika langsung dibaca sebagai tanda bahwa dunia sedang meninggalkan Amerika Serikat atau dolar AS secara massal.

Bukan Eksodus, Melainkan Diversifikasi Risiko

Koreksi pertama perlu diberikan terhadap narasi bahwa Government Pension Fund Global atau GPFG Norwegia akan melepas US Treasury senilai US$2,3 triliun.

Angka US$2,3 triliun merupakan keseluruhan aset yang dikelola GPFG, bukan nilai US Treasury yang akan dijual.

Rekomendasi NBIM adalah menurunkan porsi obligasi pemerintah dalam indeks acuannya dari 70 persen menjadi 50 persen. US Treasury diperkirakan menjadi bagian yang memperoleh pengurangan terbesar, sekitar US$80 miliar.

Namun, langkah tersebut masih merupakan rekomendasi kepada pemerintah Norwegia dan akan dilakukan secara bertahap. Bahkan, strategi baru tersebut tidak berarti Norwegia meninggalkan aset berbasis dolar.

Sebagian dana yang keluar dari obligasi pemerintah AS justru dapat dialihkan ke instrumen berbasis dolar lainnya, seperti surat utang non-pemerintah dan mortgage-backed securities.

Dengan kata lain, Norwegia tidak sedang meninggalkan Amerika. Negara tersebut lebih tepat dikatakan sedang mengurangi konsentrasi risiko dalam portofolionya.

Hal serupa terlihat pada keputusan Belanda.

DNB memindahkan sekitar 86 ton emas dari New York dan Ottawa ke London. Namun, total cadangan emas Belanda tidak berkurang. Negara itu masih memiliki sekitar 612,4 ton emas dengan nilai sekitar 72,2 miliar euro pada akhir 2025.

Setelah relokasi, porsi emas Belanda yang disimpan di London meningkat menjadi 32,1 persen, sedangkan porsi yang berada di New York dan Ottawa masing-masing menjadi 18,5 persen. DNB menyebut London memiliki keunggulan karena merupakan pusat perdagangan emas fisik yang sangat likuid.

Artinya, langkah tersebut lebih tepat dibaca sebagai pengelolaan lokasi dan likuiditas cadangan daripada aksi meninggalkan sistem keuangan Amerika.

Pos terkait