Sering Terbangun Jam 3 Pagi? Ini Penyebab dan Kapan Perlu Diwaspadai

Stres Bisa Memicu Kebiasaan Terbangun Berulang

Stres juga menjadi salah satu faktor yang dapat berperan. Setelah beberapa jam tidur, pikiran seseorang dapat kembali dipenuhi kekhawatiran atau berbagai persoalan yang terjadi sepanjang hari.

Hormon kortisol memang mengikuti pola ritme sirkadian. Kadarnya cenderung menurun pada malam hari dan meningkat menjelang pagi untuk membantu tubuh bersiap menghadapi aktivitas.

Namun, Harris mengingatkan bahwa terlalu sederhana jika kebiasaan terbangun pada pukul 03.00 hanya disebabkan oleh lonjakan kortisol.

Bacaan Lainnya

Afolabi-Brown juga mengatakan belum ada bukti bahwa menurunkan kadar kortisol pada pagi hari dapat mengatasi gangguan tidur seperti ini.

Kebiasaan terbangun juga dapat berkembang menjadi siklus kecemasan. Seseorang mulai khawatir akan kembali terbangun, kemudian merasa frustrasi karena tidak bisa tidur lagi.

“Sekarang otak kamu seperti berkata, ‘Ya ampun, kita akan terbangun, kita akan takut terbangun, ini akan terasa buruk,’” kata Afolabi-Brown.

Kecemasan tersebut kemudian dapat membuat tubuh tetap terjaga dan memperkuat pola yang sama pada malam berikutnya.

Bisa Berkaitan dengan Gangguan Tidur

Meskipun sering kali merupakan kondisi normal, terbangun berulang pada dini hari juga dapat menjadi tanda kondisi tertentu, terutama jika disertai gejala lain.

Salah satunya adalah depresi. Gangguan suasana hati tersebut sering berkaitan dengan perubahan pola tidur.

Selain itu, risiko sleep apnea atau henti napas saat tidur juga meningkat seiring bertambahnya usia. Ketika terjadi jeda napas saat tidur, kondisi tersebut dapat memicu seseorang untuk terbangun.

“Ketika terjadi jeda napas saat tidur, kondisi tersebut dapat memicu seseorang untuk terbangun,” tutur Afolabi-Brown.

Gangguan tidur lain, seperti insomnia dan restless legs syndrome, juga dapat menyebabkan seseorang sering terbangun atau sulit kembali tidur.

Jika tidak ditangani, gangguan tidur dapat berdampak terhadap kesehatan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan berbagai masalah, termasuk tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, gangguan kognitif, dan penyakit jantung.

Pos terkait