Rumah Baru, Harapan Baru bagi Warga Relokasi KEK Tanjung Sauh

“Rumah Baru, Harapan Baru bagi Warga Relokasi KEK Tanjung Sauh”Dari Rumah Lama ke Harapan Baru: Cerita Antonius Menata Hidup di Hunian Relokasi KEK Tanjung Sauh

IDNNEWS.CO.ID, BATAM – Senyum sederhana terpancar dari wajah Antonius Abas Nur saat menceritakan kehidupan barunya di hunian relokasi yang kini ditempatinya bersama keluarga.

Sudah lebih dari satu bulan ia menjalani hari-hari di rumah baru itu, dan jika menghitung waktu, tepat pada tanggal 27 nanti genap dua bulan sejak ia memulai lembaran baru di lingkungan tersebut.

Bacaan Lainnya

Bagi Antonius, berpindah tempat tinggal bukanlah perkara mudah. Ada kebiasaan lama yang ditinggalkan, lingkungan yang berubah, hingga penyesuaian terhadap aktivitas sehari-hari. Namun di balik semua itu, ia memilih melihat relokasi ini sebagai awal kehidupan yang lebih baik.

“Biasa saja, tidak ada pengaruh besar. Yang penting sekarang kita punya rumah untuk berteduh,” ujarnya saat ditemui KE Group, Kamis (21/5/2026).

Meski sebelumnya telah lama tinggal di kawasan asal, Antonius mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam beradaptasi.

Yang paling terasa justru bukan perubahan tempat tinggal, melainkan penyesuaian terhadap mata pencaharian dan pola hidup sehari-hari.

Namun baginya, memiliki tempat tinggal yang lebih layak menjadi alasan utama untuk tetap bersyukur.

Proses mendapatkan hunian relokasi pun menurutnya berlangsung cukup mudah dan tidak berbelit. Ia hanya perlu melengkapi persyaratan administrasi dasar, termasuk dokumen kependudukan sebagai dasar verifikasi penerima hunian pengganti.

“Prosesnya mudah, tidak sulit,” katanya singkat.

Rumah yang diterima keluarga Antonius juga dinilai telah memenuhi kebutuhan dasar penghuni. Penambahan yang dilakukan hanya bersifat pelengkap agar lebih nyaman ditempati.

“Kita hanya tambah dapur sama sedikit ruang saja. Selebihnya sudah disiapkan,” jelasnya.

Kini Antonius tinggal bersama keluarga besarnya. Dari empat anak yang dimilikinya, tiga di antaranya menetap berdekatan di kawasan relokasi yang sama, sementara satu lainnya tinggal di pulau berbeda. Kedekatan jarak tersebut membuat interaksi keluarga menjadi lebih intens dibanding sebelumnya.

Seiring waktu, kawasan relokasi juga mulai menunjukkan kehidupan baru. Rumah-rumah yang sebelumnya kosong kini perlahan terisi. Anak-anak mulai bermain di halaman, aktivitas warga semakin terlihat, dan hubungan antarwarga mulai terbentuk kembali di lingkungan yang baru.

Kehadiran para warga terdampak pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Sauh tidak hanya menghidupkan kawasan permukiman, tetapi juga membangun kembali rasa kebersamaan dan solidaritas sosial yang sempat terputus akibat proses perpindahan.

Bagi Antonius, semua perubahan itu memberi satu pelajaran sederhana: rumah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat memulai kembali kehidupan.

“Yang penting kami bersyukur, sekarang sudah punya rumah seperti ini,” tutupnya.

Kisah Antonius menjadi potret bagaimana program relokasi dalam pembangunan KEK Tanjung Sauh tidak hanya menghadirkan hunian pengganti, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk membangun harapan baru di lingkungan yang lebih tertata.

Sebagai informasi, pengembangan KEK Tanjung Sauh merupakan salah satu proyek strategis ekonomi di Batam dengan luas kawasan sekitar 840,6 hektare yang mencakup area darat dan perairan. Kawasan ini diproyeksikan berkembang menjadi pusat industri pengolahan, logistik, distribusi, dan energi.

Pemerintah menetapkan kawasan tersebut sebagai KEK dengan komitmen investasi mencapai Rp199,6 triliun. Pada tahap awal pengembangan, pengelola menyiapkan investasi sekitar Rp5–10 triliun dalam lima tahun pertama untuk pembangunan infrastruktur dasar seperti waduk, pelabuhan, jaringan jalan, sistem pengelolaan air limbah, dan utilitas kawasan.

Dalam jangka panjang, proyek ini juga diproyeksikan mampu menciptakan hingga 366 ribu lapangan kerja, yang diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai kawasan industri dan investasi nasional.(Iman Suryanto)

Pos terkait