Ransel Hitam dan Tasbih: Kisah Sederhana Seorang Pemimpin bernama Iman Sutiawan

Sekitar satu setengah jam kemudian, pesawat akhirnya mendarat di Batam. Selama perjalanan itu, tasbih di tangan Iman terus bergerak. Setidaknya, sejauh yang saya amati, butir-butir tasbih itu tak pernah benar-benar berhenti berputar.

Ketika pintu pesawat dibuka dan penumpang dipersilakan turun, saya kembali mengikuti langkahnya dari belakang. Pemandangan yang sama kembali terlihat. Ia tetap sendiri.

Tak ada ajudan yang menunggu di pintu pesawat. Tak ada pengawal yang mengiringi langkahnya menuju terminal kedatangan. Ransel hitam itu masih setia melekat di punggungnya.

Bacaan Lainnya

Bahkan setelah keluar dari bandara, tak tampak rombongan penjemput ataupun pengawalan khusus yang biasanya identik dengan kehadiran seorang pejabat tinggi daerah.

Saya kembali merenung. Ternyata, kebesaran seseorang tidak selalu harus diperlihatkan melalui banyaknya orang yang mengiringi langkahnya. Tidak pula harus diukur dari panjangnya iring-iringan kendaraan, kemewahan fasilitas, atau seberapa besar penghormatan yang diterimanya.

Ada orang-orang yang justru terlihat besar karena tidak sibuk membesarkan dirinya sendiri.
Ada pemimpin yang tetap merasa cukup berjalan sederhana, meskipun jabatan memberinya kesempatan untuk mendapatkan perlakuan istimewa.

Dan ada pula kesunyian yang justru menyimpan pelajaran lebih dalam daripada seribu kata-kata tentang kerendahan hati.

Sebelum berpisah, saya kembali menyinggung undangan Rakernas III PJS. “Insya Allah, saya hadir di acara Rakernas,” katanya.

Jawaban itu singkat. Tetapi bagi kami, tentu memiliki arti tersendiri. Pagi itu, saya pulang membawa sebuah kesan yang jauh lebih berharga daripada sekadar pertemuan dengan seorang Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau.

Pos terkait