BP Batam menyatakan kesiapan memfasilitasi kebutuhan investor, terutama terkait kepastian lokasi pembangunan dan percepatan proses perizinan serta pengalokasian lahan.
Menurut Fary, setelah proyek masuk dalam kategori ready to invest, BP Batam akan membentuk tim bersama Pupuk Indonesia untuk mempercepat pembahasan teknis dan langkah strategis.
“Kalau sudah masuk dalam ready to invest, BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia. Kami sudah tunjuk beberapa direktur kami dan juga dari Pupuk Indonesia untuk melakukan komunikasi lebih teknis agar langkah-langkah strategis sudah kita bisa lakukan,” kata Fary.
Saat ini, Pupuk Indonesia masih mengevaluasi sejumlah lokasi potensial untuk pembangunan fasilitas pabrik amonia. Penentuan lokasi akan mempertimbangkan kesesuaian lahan serta rencana pengembangan kawasan dalam jangka panjang.
Apabila kepastian lahan dan ketersediaan bahan baku gas alam telah terpenuhi, pembangunan pabrik amonia tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun.
Dengan estimasi investasi mencapai 500 juta dolar AS, proyek ini berpotensi menjadi salah satu penggerak baru investasi industri di Batam. Selain memperkuat hilirisasi gas alam, kehadiran industri amonia juga membuka peluang bagi Batam untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok energi maritim global.(***)
foto: ant, desain: idn
