“Perekonomian Indonesia dan Rusia bukanlah cermin satu sama lain. Justru karena itu, saya percaya keduanya dapat saling melengkapi untuk bekerja sama,” ujar Prabowo.
Logika tersebut mempertemukan kepentingan ekonomi dengan kepentingan geopolitik.
Indonesia membutuhkan diversifikasi sumber pasokan pangan, energi dan teknologi. Sementara Rusia, di tengah perubahan arsitektur perdagangan global, membutuhkan akses yang lebih kuat ke pasar Asia.
Vladivostok menjadi salah satu titik penting dalam hubungan tersebut. Kota di ujung timur Rusia itu merupakan pintu Rusia menuju kawasan Pasifik.
Indonesia sendiri berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik.
“Samudra Pasifik tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik menghubungkan kita. Ia bukan tembok di antara kita, melainkan harus menjadi jalan raya bagi kedua ekonomi kita,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut kemudian diarahkan pada agenda konkret berupa pembukaan jalur pelayaran langsung, peningkatan konektivitas udara dan penguatan rantai pasok antara Indonesia dan Rusia.
Perdagangan Indonesia-Rusia Terus Tumbuh
Peluang kerja sama ekonomi Indonesia dan Rusia juga ditopang oleh meningkatnya nilai perdagangan bilateral.
Dalam pidatonya di EEF, Prabowo menyebut nilai perdagangan bilateral pada 2025 mendekati US$5 miliar. Angka tersebut meningkat 21,7 persen dibandingkan 2024 dan 33,7 persen dibandingkan 2023.
Data perdagangan resmi juga menunjukkan peningkatan hubungan dagang kedua negara.
Berdasarkan publikasi Kementerian Perdagangan yang bersumber dari BPS, perdagangan Indonesia dengan Federasi Rusia pada Januari-Oktober 2025 mencapai sekitar US$4,04 miliar.
Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia sekitar US$1,58 miliar dan impor sekitar US$2,46 miliar. Dengan demikian, Indonesia masih mencatat defisit perdagangan sekitar US$880 juta.
Perbedaan cakupan periode perlu diperhatikan. Angka hampir US$5 miliar yang disampaikan Prabowo merupakan gambaran perdagangan sepanjang 2025, sedangkan data Kemendag untuk Januari-Oktober 2025 menunjukkan posisi perdagangan sebelum dua bulan terakhir tahun tersebut.
Namun, kedua data tersebut sama-sama menunjukkan bahwa arus perdagangan Indonesia-Rusia terus membesar.
Tantangannya adalah memastikan peningkatan perdagangan tidak hanya mendorong impor dari Rusia.
Defisit perdagangan menunjukkan perlunya peningkatan ekspor Indonesia ke pasar Rusia, khususnya produk manufaktur dan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Pupuk Indonesia Siapkan Investasi di Vladivostok
Salah satu peluang konkret kerja sama ekonomi Indonesia-Rusia adalah rencana investasi Pupuk Indonesia di Vladivostok.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, mengungkapkan Pupuk Indonesia bersama mitra dari Rusia telah menandatangani joint study untuk mengkaji kemungkinan pembangunan pabrik pupuk urea di Vladivostok.
“Pada intinya, kami bersama-sama dengan Direktur Utama Pupuk Indonesia baru saja menandatangani joint study untuk melihat potensi Pupuk Indonesia berinvestasi di Vladivostok untuk pupuk urea,” kata Rosan.
Bagi Indonesia, rencana tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekspansi bisnis korporasi. Pupuk juga merupakan bagian penting dalam rantai ketahanan pangan.
Jika kajian tersebut berkembang menjadi fasilitas produksi nyata, hubungan Indonesia-Rusia dapat bergerak dari pola pembelian komoditas menuju kerja sama produksi.
