Potensi Pertanian Tanjungpinang Digenjot, HKTI Fokus Produksi, Digitalisasi hingga Pasar

Ruang Tani tidak hanya akan menjadi tempat penjualan hasil pertanian. Konsep tersebut juga diarahkan menjadi pusat kebutuhan pokok dan produk UMKM, sekaligus ruang edukasi serta promosi produk lokal.

HKTI juga menyiapkan marketplace pertanian untuk mempertemukan kebutuhan pasar dengan produksi petani.

Konsep tersebut diharapkan dapat membantu petani menentukan komoditas yang akan ditanam berdasarkan kebutuhan pasar. Salah satu pasar potensial yang dibidik adalah kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bacaan Lainnya

“Misalnya dalam satu bulan MBG membutuhkan sayuran apa di Tanjungpinang. Itu nanti bisa kita data, sehingga petani mengetahui apa yang harus ditanam dan pasarnya sudah tersedia,” jelasnya.

Menurut Sadmni, pendekatan tersebut dapat mengurangi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Petani tidak lagi hanya memproduksi berdasarkan perkiraan, tetapi dapat menggunakan informasi kebutuhan pasar sebagai dasar perencanaan produksi.

Selain pemasaran, HKTI Tanjungpinang juga mendorong peningkatan produksi melalui pemanfaatan lahan produktif.

Salah satunya melalui program penanaman singkong di lahan sekitar Kilometer 15, Kota Tanjungpinang, dengan luas sekitar tiga hektare.

Program tersebut ditargetkan mulai berjalan tahun ini sebagai bagian dari pengembangan komoditas pertanian lokal sekaligus pemanfaatan lahan yang tersedia.

HKTI juga mengembangkan Kampung Tani Dompak di Kelurahan Dompak sebagai kawasan percontohan pemanfaatan pekarangan rumah untuk kegiatan pertanian.

Program tersebut diarahkan untuk membangun budaya bertani di tengah masyarakat perkotaan. Generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi salah satu kelompok sasaran melalui edukasi dan pelatihan pertanian.

“Kita tidak hanya ingin membangun pertanian, tetapi membangun ekosistem pertanian yang mampu menghidupkan petani, membuka peluang bagi generasi muda, dan memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Tanjungpinang,” kata Sadmni.

Ia menambahkan, pengembangan pertanian perkotaan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Melalui integrasi produksi, digitalisasi, distribusi dan pemasaran, HKTI berharap petani lokal memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai pasok pangan.

Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan Kepri dengan mengoptimalkan potensi pertanian daerah dan memperluas akses pasar bagi produk lokal. (Iman Suryanto)

Pos terkait