Menurut Vikram, salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut berasal dari meningkatnya Average Revenue Per User (ARPU) yang naik sekitar 17 persen secara tahunan. Hal ini menunjukkan peningkatan kualitas pelanggan sekaligus efektivitas strategi bisnis perusahaan.
Di sisi strategi korporasi, Indosat juga berhasil menyelesaikan proses carve out aset jaringan serat optik sebagai bagian dari transformasi menuju organisasi yang lebih ringan aset (asset-light organization). Dalam proses tersebut, perusahaan menggandeng Asianet Group dan telah menerima dana transaksi sekitar Rp11,7 triliun.
Meski melepas sebagian aset, Indosat tetap memegang 49 persen kepemilikan pada perusahaan hasil kerja sama tersebut. Platform baru ini akan menjadi kendaraan utama untuk memperluas jaringan fiber nasional, mempercepat pembangunan fiber-to-site, mengembangkan layanan Fiber-to-the-Home (FTTH), sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur AI di Indonesia.
Vikram menilai keberadaan platform tersebut akan menjadi fondasi penting dalam menyambut era AI Supercycle, ketika kebutuhan terhadap pusat data, komputasi awan, dan jaringan digital diperkirakan meningkat secara signifikan.
Tak hanya itu, bisnis AI Cloud yang dikembangkan Indosat juga mulai menunjukkan prospek yang menjanjikan. Hingga Semester I, pendapatan dari layanan tersebut telah mencapai sekitar 33 juta dolar AS, sementara nilai kontrak yang telah diamankan untuk sepanjang tahun diperkirakan mencapai sekitar 113 juta dolar AS.
“AI Cloud kini mulai menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi Indosat. Ke depan akan ada banyak perkembangan penting yang akan kami hadirkan,” kata Vikram.
