Di tengah agenda reformasi tersebut, kinerja fundamental perusahaan tercatat menunjukkan perkembangan positif. Pada kuartal II 2026, pendapatan emiten tumbuh sebesar 15,9 persen dan laba bersih juga mengalami peningkatan.
Dari total 962 emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia, sebanyak 74 persen membukukan laba.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan tercatat masih mampu menghasilkan keuntungan di tengah dinamika perekonomian.
“Dengan pertumbuhan pendapatan emiten sebesar 15,9 persen pada kuartal II 2026 dan 74 persen dari total 962 emiten membukukan laba, hal ini menunjukkan adanya kinerja positif dari sebagian besar perusahaan tercatat. Namun, kepercayaan investor tetap harus dijaga melalui tata kelola yang baik dan penegakan aturan secara konsisten,” jelasnya lagi.
Kinerja keuangan emiten menjadi salah satu indikator yang dapat dipertimbangkan investor dalam mengevaluasi prospek perusahaan. Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan masing-masing emiten, prospek bisnis, valuasi saham, serta risiko yang mungkin timbul.
Selain menjaga kinerja fundamental, pasar modal Indonesia juga menghadapi tantangan terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks global yang menjadi salah satu acuan manajer investasi internasional dalam menentukan alokasi investasi.
Berdasarkan materi paparan yang disampaikan, evaluasi MSCI pada Juni 2026 memuat catatan mengenai risiko penurunan klasifikasi pasar Indonesia apabila perbaikan yang diperlukan belum memenuhi ekspektasi dalam evaluasi berikutnya.










