Layanan pelayaran langsung ini sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 2024, bahkan saat pembangunan infrastruktur terminal belum sepenuhnya rampung. Begitu pengelolaan terminal resmi dikonsesikan kepada BTP, manajemen langsung bergerak cepat menarik pasar global dan shipping line internasional.
Diawali dengan kerja sama tunggal bersama operator SITC untuk rute Intra-Asia yang kala itu hanya beroperasi dua kali sebulan, kini perkembangannya melesat tajam.
Pada tahun 2025, raksasa pelayaran dunia seperti Evergreen, Samudera Indonesia, hingga COSCO resmi bergabung. Efeknya, frekuensi kunjungan kapal di Batu Ampar kini mencapai 15 hingga 20 kapal setiap bulannya.
Sebelum tren direct call ini mendarat, para pelaku usaha di Batam harus menghadapi tingginya biaya logistik dan waktu tempuh akibat ketergantungan pada pelabuhan transit di Singapura. Kini, peta permainan telah berubah total melalui dua efisiensi utama. Yakni Efisien waktu dan biaya.
Untuk rute Batam – Shanghai (Tiongkok), dulu membutuhkan waktu hingga 10 hari karena kapal harus mengantre dan transit di Singapura. Sekarang, melalui jalur pelayaran langsung, perjalanan terpangkas menjadi hanya 7 hari, sehingga hemat waktu hingga 3 hari.
“Dampaknya, perputaran bahan baku masuk dan pengiriman barang jadi atau finished goods dari pabrik-pabrik di Batam ke negara tujuan menjadi jauh lebih kilat. Sehingga memunculkan efisiensi biaya logistik yang Signifikan,” tegasnya, (Iman Suryanto)










