OLEH : Sabri Rasyid
Era 80-an, saat saya masih duduk di bangku SMP hingga SMA di Kabupaten Bone, 173 kilometer dari Kota Makassar. Belum ada internet pastinya. Komunikasi tulisan jarak jauh hanya ada via pos atau telegram.
Ajaibnya, menerima surat atau telegram yang diantar kurir pos atau petugas caraka, rasanya bikin dag dig dug. Terlebih telegram, kalau bukan berita permintaan biaya kuliah dari paman dan tante yang kuliah di Makassar, kadang berita sakit atau berpulangnya keluarga dari kota lain.
Khusus surat yang diantar pak pos, lembaran isi suratnya bisa lebih panjang. Lebih haru. Tulisan yang mewakili kerinduan dan suasana hati. Dulu tulisan indah satu mata pelajaran tersendiri. Sehingga menulis surat indah lebih bernyawa. Ibarat membaca novel roman picisan.
Satu hal yang saya suka dari surat yang diantar pak Pos, selalu ada perangko yang menempel di pojok kanan atas. Lengkap dengan cap stempel asal kota dan tanggal kirim.
Sangat sayang jika dibuang. Untuk melepasnya harus extra hati-hati. Jangan sampai sobek. Kadang pakai pin-set untuk operasi pelepasan lem perangko.
Saking sukanya sama perangko, saya ikutan kelompok pecinta perangko di Bone. Saat itu baru terbentuk. Namanya AFI, Asosiasi Filatelis Indonesia. Kelompok ini ramai sejak datangnya teman sekolah dari Pulau Jawa. Mereka pindah sekolah karena ikut orang tuanya yang dinas di Bone.
Untuk mendapatkan perangko, disamping tukar menukar perangko sesama Filatelis. Tentunya lewat kirim surat ber-perangko ke sesama Sahabat Pena di kota lain.










