OPINI: Sahabat Pena, Ketika Perangko Menjadi Jembatan Hati

Dari situ saya mulai rajin mengirim surat berperangko. Dan tanpa disangka, dari balik amplop balasan yang datang, muncul nama-nama baru yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Itulah awal saya mengenal dunia Sahabat Pena.

Sahabat Pena ini sangat menarik. Dapat berkenalan dengan sahabat nun jauh disana hanya via tulisan dalam bentuk surat fisik. Setiap amplop yang terkirim maupun yang tiba membawa lebih dari sekadar kata-kata; ia membawa aroma kertas, sentuhan tinta, dan kehangatan tangan yang menuliskannya. Bonus, perangko yang indah.

Bagi saya, sebagai pencinta perangko Pos Indonesia, setiap sudut kecil berperekat itu bukan sekadar alat bayar pengiriman. Perangko semacam jendela dunia. Saya di kampung, bisa membayangkan keindahan Candi Borobudur, keanggunan tari Bali, atau kemegahan Burung Cenderawasih lewat gambar.

Bacaan Lainnya

Pun sebaliknya, tatkala saya menempelkan perangko pada amplop untuk sahabat pena di kota lain, saya tengah mengemas sepotong Indonesia, mengiriminya sebagai hadiah visual sebelum mereka membaca kata-kata saya.

Kini, di tengah era digital, Sahabat Pena perlahan hilang. Keindahan yang dulu tertulis dengan goresan pena, kini tergantikan dengan simbol chat ataupun postingan di sosial media. Font digital plus emoticon.

Bagi babyboomers dan gen-X seperti saya , pasti bisa merasakan ada yg sirna. Sesekali mampir ke kantor Pos, melihat  koleksi perangko, kartu pos ataupun sampul hari pertama yang tertata rapi di lemari kaca, mampu membangkitkan romantisme masa lalu.

Karena Sahabat Pena dan perangko mengajarkan : jarak sejati bukan soal kilometer, tapi tentang seberapa besar kita peduli untuk menjembataninya—satu surat, satu perangko, pada satu waktu.

Tabik,
Sabri Rasyid
Jakarta, 01/02/26

Pos terkait