OLEH: Sabri Rasyid
Dulu saya meyakini, penyakit pensiunan yang berbahaya adalah Post Power Syndrome. Terlebih, pensiunan yang sebelumnya sebagai pejabat high level. Biasa dilayani, dihormati, dibukakan pintu mobil, semua kebutuhan langsung tersaji, kini perlahan sirna.
Di lingkungan rumah, kebiasaan tersebut menular. Tetangga, Security, petugas listrik, tukang, pak RT, dianggap sebagai bawahan. Termasuk berhubungan dengan kantor, masih meminta layanan extra. Ini salah satu penyakit yg berbahaya bagi pensiunan pejabat.
Memasuki minggu ke-3 masa pensiun, saya mulai merasa nyaman. Nyaman di rumah. Nyaman bebas tidur pagi. Termasuk nyaman makan. Rupanya ini berbahaya saudara-saudara.
Dalam masa 3 minggu ini, saya sudah 2 kali ke dokter Yakes Bogor. Pertama ngeluh sakit pinggang, kini turun di kaki. Nyeri jika jalan. Dokter cuman tersenyum, ngasi nasehat, “bapak harus jalan. Harus bergerak. Ini sumber penyakit bapak. Jangan merasa nyaman apalagi malas bergerak.” Glek.
Sebelumnya, sesaat pamit jelang pensiun, saya banyak mendapat chat WA. “Selamat menikmati waktu bersama keluarga ya pak”, “bapak kini bebas merdeka”, “capek 32 tahun kerja, saatnya istirahat pak”, dll. Rupanya ini jebakan terselubung. Otak alam bawah sadar, bisa-bisa merekam untuk merasa nyaman. Saatnya bermalas-malasan. Toh, sudah gak ada kerjaan.
Dibandingkan dengan perilaku pensiunan negara barat, jauh beda. Mereka, begitu pensiun langsung menikmati keliling dunia berbulan-bulan. Traveling ke negara-negara yang bagi mereka sangat eksotis, yang mereka tidak jumpai di negaranya selama ini. Meski sudah senior, mereka malah bahagia traveling. Bukan menikmati malas apatahlagi sakit-sakitan.
Lha, saya?
Begitu lihat rekening, langsung mikir bulan depan bagaimana bayar listrik? Air? iuran IPL? SPP anak? Dll. Bagaimana mau traveling kayak pensiunan bule tadi?
Ada yang salah dalam manajemen keuangan saya selama ini. Dan saya yakin, banyak pensiunan di Indonesia seperti saya. Tidak siap secara finansial untuk persiapan masa tua. Tentu banyak alasan. Termasuk cerita soal sandwich generation. Keluarga atas bawah masih jadi tanggungan.
Sempat seliweran di sosmed, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk pensiun? Sudah punya tabungan 5 Milyar untuk pensiun?
Wedew. Boro2 nabung selama ini. Investasi saham juga hasilnya naik turun. Yaa, beruntung lah bagi Anda yang termasuk di jajaran 5 Milyar tadi. Begitu masuk bank, langsung jadi nasabah prioritas. Masukin ORI plus danareksa buat investasi, hasilnya lumayan buat bayar kebutuhan bulanan. Masih bisa tersenyum.
Balik ke soal “malas” tadi. Banyak sumber penyebab lahirnya rasa malas tadi. Terutama mindset. Pola pikir. Masa produktif = aktif bekerja. Pensiun = saatnya menikmati masa tua. Padahal salah. Harusnya, pensiun itu hanya soal administrasi off dari status pekerjaan tetapi bukan off dari kehidupan.
Obat anti malas? Yaa bergerak tadi. Mencoba hal baru, ikutan belajar online tentang AI misalnya, biar ga gaptek. Dengan belajar, katanya hormon Dopamin bisa bangkit lagi. Agar otak tidak sibuk bernostalgia dengan masa lalu. Dulu…dulu…dulu…?
Otak harus dipaksa bangun, biar kembali tidak nyaman. Otak butuh “ketidaknyamanan” biar kreatif. Bukankah selama kerja selalu diingatkan sama motivator, jika mau berkembang dan kreatif, segera keluar dari zona tidak nyaman?
Soal masa lalu, jadikan sebagai pengalaman berharga. Sebagai jam terbang yang masih bisa dihargai saat pensiun. Silahkan mau tetap berkarya di kantor yang membutuhkan sebagai staf ahli misalnya. Atau buka layanan konsultan. Jika selama ini tidak pernah berbisnis, sebaiknya jangan mudah tergiur untuk investasi bisnis. Banyak yg kena jebakan. Lebih baik berbisnis dengan minimal resiko, misalnya jadi Solopreneur dengan menulis buku, mengajar via online dll. Atau mau aktif di sektor agama. Silahkan.
So, hidup tetap harus berlanjut dengan melawan rasa malas tadi, menjadi pensiunan yang produktif.
Tabik,
Sabri Rasyid
