Jika negara-negara besar memilih bertindak sendiri, ruang sidang yang megah itu dapat berubah menjadi tempat semua orang mengeluhkan kebakaran sambil menyembunyikan korek api masing-masing.
Tetapi justru ketika dunia semakin terpecah, tempat untuk berbicara semakin diperlukan. PBB mungkin lambat, birokratis, dan sering mengecewakan. Namun alternatifnya bukan organisasi internasional yang lebih sempurna. Alternatifnya bisa jadi dunia tanpa meja bersama—tempat negara yang kuat berbicara dengan senjata, sedangkan yang lemah hanya kebagian mendengar.
Karena itu, PBB perlu diperbaiki, bukan ditinggalkan. Dewan Keamanan harus lebih mencerminkan dunia hari ini. Negara berkembang, termasuk Afrika, perlu mendapat suara yang lebih kuat. Hak veto tidak boleh menjadi kartu bebas untuk melindungi kawan sendiri. Pembiayaan harus lebih sehat, dan keputusan harus lebih dekat kepada tindakan nyata.
PBB memang seperti grup keluarga dunia: berisik, penuh perbedaan, pesannya bertumpuk, dan kesepakatannya sering hanya berupa “baik, nanti kita bicarakan lagi.”
Tetapi tak seorang pun benar-benar ingin keluar. Sebab ketika rumah mulai terbakar, bahkan anggota keluarga yang paling lama saling memblokir tetap membutuhkan satu grup untuk mengirim alamat dan bertanya: “Siapa yang membawa alat pemadam?”
Jakarta, 23 September 2026
LDT
