Menjelang senja, Dara datang membawa kabar dari banyak negeri.
_”Kini manusia semakin mudah menemukan alasan untuk berpisah.”_
Muharram memandang sungai. Air dari berbagai hulu dapat bertemu tanpa saling menghapus. Mengapa manusia tidak mampu melakukan hal yang sama?
Saat matahari hampir tenggelam, Camar turun dari langit. Pada sayapnya menempel masa depan: bau logam, kecerdasan buatan, kota-kota yang menyala sepanjang malam, dan kesepian yang tidak pernah dikenal generasi sebelumnya.
_”Aku takut manusia menyerahkan pikirannya kepada mesin,”_ katanya.
Muharram tersenyum tipis. Sebab ia baru saja datang dari masa yang ditakuti Camar. Ia telah melihat dunia yang penuh jawaban, tetapi miskin makna. Dunia yang mampu menghitung hampir segala sesuatu, kecuali nilai sebuah pelukan, nilai kesetiaan, dan nilai doa seorang ibu yang menunggu anaknya pulang
.
Ketika senja turun sepenuhnya, burung-burung memandang Muharram.
Mereka menunggu jawaban. Namun Muharram hanya menatap hilal yang kini berdiri di langit: tipis, rapuh, dan indah. Lalu ia berkata pelan:
_”Kalian datang membawa banyak ketakutan.”_ Angin bergerak perlahan di atas air.
_”Tetapi selama masih ada manusia yang menengadah ke langit dan merasa takjub, aku belum kehilangan harapan.”_
Semua terdiam. Karena mereka tahu, dari situlah semuanya bermula. Ilmu lahir dari rasa takjub. Iman tumbuh dari rasa takjub. Peradaban bertahan karena rasa takjub. Dan ketika rasa takjub itu hilang, manusia perlahan kehilangan alasan untuk menjaga dunia.
Malam turun perlahan di atas Kalimalang. Muharram berdiri. Lalu kembali berjalan. Seperti setiap tahun. Seperti setiap abad. Meninggalkan sungai, meninggalkan burung-burung, dan meninggalkan satu pertanyaan yang akan terus mengikuti manusia ke masa depan:
_Apakah kita masih mampu memandang ciptaan Tuhan dengan takjub, lalu merawatnya dengan cinta?_
— *IM*
