OPINI: MUHARRAM DAN BURUNG-BURUNG

Dalam lamunan itu, seekor Hudhud datang. Burung tua itu hinggap di dekat batu tempat Muharram duduk. Paruhnya berdebu. Matanya merah karena terlalu lama berjaga. Ia baru pulang dari universitas, perpustakaan, laboratorium, dan pusat-pusat data yang menyimpan lebih banyak informasi daripada seluruh perpustakaan kuno yang pernah dibangun manusia.
_”Aku lelah,”_ katanya. Muharram mengangguk.
_”Apa yang membuatmu lelah?”_ Hudhud memandang sungai.
_”Dahulu manusia menyeberangi lautan karena ingin mengetahui apa yang ada di balik cakrawala. Kini mereka mengetahui hampir seluruh isi dunia, tetapi semakin jarang bertanya dan semakin jarang peduli.”_

Muharram teringat para pelaut Bugis yang membaca bintang seperti membaca surat dari sahabat lama. Ia teringat para pelaut Nias yang mengenali arah angin dari bau laut. Mereka tidak menaklukkan samudra. Mereka menghormatinya. Dari penghormatan itulah lahir pengetahuan. Dari pengetahuan lahir kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan lahir keselamatan.

Hudhud menundukkan kepala.
_”Aku takut ilmu masih ada, tetapi keajaiban telah hilang.”_ Lama mereka terdiam. Di atas kepala mereka, langit tetap luas sebagaimana ribuan tahun lalu. Menjelang siang, Bulbul datang. Biasanya ia bernyanyi. Hari itu tidak.
_”Aku baru pulang dari banyak rumah ibadah,”_ katanya.
_”Lalu?”_
_”Aku mendengar nama Tuhan disebut di mana-mana.”_ Bulbul berhenti sejenak.
_”Tetapi aku juga mendengar kemarahan. Manusia semakin pandai menjelaskan surga, namun semakin sulit menghadirkan keteduhan.”_

Bacaan Lainnya

Muharram teringat ayat yang telah menemaninya berabad-abad:
_”Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”_ Seluruh alam. Bukan hanya mereka yang sama dengan kita. Bukan hanya mereka yang sepakat dengan kita. Di dalamnya ada sungai, pohon, burung, manusia yang berbeda keyakinan, bahkan anak-anak yang belum lahir. Rahmat selalu lebih luas daripada pagar yang dibangun manusia.

Bulbul memejamkan mata.
_”Aku takut manusia menjadikan agama sebagai jalan menuju kenikmatan dirinya sendiri, bukan sebagai rahmat bagi kehidupan.”_

Menjelang sore, Pipit datang. Tubuhnya kecil. Bulu-bulunya kusam. Ia datang dari pasar, sawah, dapur-dapur sederhana, dan rumah-rumah tempat para ibu menghitung pengeluaran sambil menyembunyikan kecemasan agar anak-anak mereka tetap bisa tidur dengan tenang.

_”Aku tidak takut lapar,”_ katanya.
_”Aku takut penderitaan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.”_

Muharram tidak segera menjawab. Sebab ia tahu sejarah terus bergerak bukan karena para raja, melainkan karena orang-orang yang tak pernah dicatat sejarah: petani, nelayan, guru, pedagang, serta para ibu yang bangun sebelum fajar. Mereka adalah akar. Dan akar selalu bekerja dalam diam.

Pos terkait