OPINI: Kepri Premium Tourism: Menjual Pengalaman, Memperpanjang Lama Tinggal, Mengerek Ekonomi Daerah

Penulis Oleh
Buralimar, Wakil Ketua ASPPI Kepri

Kepulauan Riau memiliki satu modal yang tidak dapat dibangun oleh siapa pun dari nol: posisi geografis. Di hadapannya terbentang Singapura dan Malaysia, sementara di sekelilingnya terdapat gugusan pulau, laut, selat, pantai, kawasan konservasi, budaya Melayu dan sejarah panjang perdagangan maritim.

Kepri bukan sekadar daerah kepulauan di ujung Indonesia, melainkan salah satu beranda terdepan Indonesia yang berhadapan langsung dengan pusat ekonomi dan mobilitas internasional Asia Tenggara.

Bacaan Lainnya

Posisi inilah yang semestinya diterjemahkan menjadi kekuatan baru: membangun pariwisata premium yang menjual kualitas pengalaman, bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan.

Potensinya bukan angan-angan. Sampai Juli 2026, Kepri telah menerima sekitar 1,23 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 12,88 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Singapura menyumbang sekitar 40,27 persen dan Malaysia 28,90 persen. Namun, tantangan berikutnya justru berada pada angka yang lebih penting bagi pariwisata bernilai tinggi: berapa lama mereka tinggal dan berapa banyak yang mereka belanjakan selama berada di Kepri.

Rata-rata lama menginap tamu asing di hotel berbintang pada Juli 2026 sekitar 2,01 malam, sementara data yang dikutip dari Bank Indonesia menunjukkan rata-rata pengeluaran wisman sekitar US$280,16 per kunjungan dengan rata-rata lama tinggal 1,92 malam. Artinya, ruang pertumbuhan Kepri tidak hanya berada pada jumlah wisatawan, tetapi pada peningkatan nilai setiap kunjungan.

Di sinilah gagasan pariwisata premium menemukan relevansinya. Premium bukan sekadar hotel mahal, vila mewah atau restoran berkelas. Premium adalah pengalaman yang memiliki kualitas, personalisasi, eksklusivitas, keamanan, kenyamanan dan keunikan yang membuat wisatawan bersedia tinggal lebih lama serta membelanjakan lebih banyak.

Pos terkait