Kepri sebenarnya telah memiliki embrio ekosistem tersebut. Lagoi di Bintan, kawasan Nongsa di Batam, lapangan golf, marina, resort, fasilitas MICE dan berbagai akomodasi kelas atas menunjukkan bahwa pasar premium bukan sesuatu yang asing. Kedekatan Batam dan Bintan dengan Singapura melalui konektivitas feri bahkan memberi Kepri keunggulan akses yang sulit diabaikan.
Namun, keunggulan geografis tidak otomatis menjadi keunggulan kompetitif. Salah satu kelemahan Kepri adalah konsentrasi fasilitas premium yang masih bertumpu pada Batam dan Bintan. Padahal, Anambas dan Natuna menyimpan bentang alam bahari yang memiliki daya tarik luar biasa untuk dikembangkan menjadi destinasi premium berbasis alam.
Persoalannya adalah konektivitas, biaya logistik, kualitas sumber daya manusia, infrastruktur digital dan konsistensi pelayanan. Kepri juga masih sangat bergantung pada Singapura sebagai salah satu pintu utama wisatawan mancanegara.
Karena itu, tantangannya bukan meninggalkan Singapura, melainkan menjadikan Singapura sebagai pasar dan mitra konektivitas, sembari memperkuat Kepri sebagai destinasi yang mampu berdiri dengan identitas dan akses internasionalnya sendiri.
Peluangnya terbentang luas. Pasar ekspatriat dan wisatawan berdaya beli tinggi di Singapura dapat menjadi pasar akhir pekan untuk luxury island getaway, wellness retreat, golf, kuliner, yacht, diving dan wisata bahari eksklusif. Kepri juga memiliki peluang mengembangkan yacht tourism dan cruise tourism karena posisi geografisnya berada di jalur pelayaran internasional.
Batam dapat mengembangkan keterhubungan antara pariwisata, kesehatan dan wellness, sementara Bintan dapat memperkuat ekosistem resort, golf dan MICE. Di Anambas dan Natuna, konsepnya dapat diarahkan pada eco-luxury: wisata eksklusif dengan jumlah terbatas, tetapi memberikan nilai ekonomi tinggi tanpa mengorbankan ekosistem pulau-pulau kecil.
Tetapi premium tourism tidak boleh berubah menjadi sekadar proyek kemewahan. Justru semakin eksklusif sebuah destinasi, semakin tinggi pula tuntutan terhadap keberlanjutan lingkungan. Inilah titik temu antara premium tourism dengan sustainable tourism.
Pembatasan jumlah pengunjung, pengelolaan sampah, perlindungan terumbu karang, efisiensi air dan energi, pengendalian pembangunan pesisir, tata ruang pulau kecil hingga penggunaan transportasi yang lebih rendah emisi harus menjadi bagian dari desain destinasi sejak awal. Kepri tidak membutuhkan wisatawan yang datang dalam jumlah besar lalu meninggalkan sampah dan tekanan ekologis; Kepri membutuhkan wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, tetapi meninggalkan jejak ekologis yang terkendali.
Lebih jauh, Kepri dapat melangkah dari sustainable tourism menuju regenerative tourism. Kalau pariwisata berkelanjutan berusaha memastikan pembangunan tidak merusak lingkungan dan kehidupan sosial, pariwisata regeneratif membawa pertanyaan yang lebih jauh: apa yang menjadi lebih baik setelah wisatawan datang? Apakah terumbu karang semakin sehat? Apakah hutan mangrove bertambah? Apakah budaya Melayu semakin hidup? Apakah nelayan memperoleh sumber pendapatan baru? Apakah anak-anak muda pulau mendapatkan keterampilan dan pekerjaan? Apakah uang yang dibelanjakan wisatawan berputar lebih banyak di masyarakat lokal? Inilah ukuran kemewahan yang sesungguhnya.
Ancaman juga tidak kecil. Kepri harus berhadapan dengan destinasi seperti Langkawi dan Phuket yang memiliki konektivitas penerbangan internasional lebih kuat. Sebagai wilayah perbatasan, persoalan keamanan, penyelundupan, pelanggaran batas laut dan kejahatan transnasional juga harus dikelola dengan serius karena citra keamanan merupakan bagian dari produk wisata premium.
Demikian pula persoalan lingkungan. Aktivitas industri, galangan kapal, pertambangan dan lalu lintas pelayaran di kawasan tertentu harus dipisahkan secara tegas dari zona wisata dan konservasi. Tidak masuk akal menjual laut biru dan pengalaman eksklusif jika pada saat yang sama kualitas laut dan pesisir tidak dijaga.
