Untuk memahami masalahnya, tidak perlu membuka buku ekonomi setebal 800 halaman.
Bayangkan sebuah warung nasi goreng. Warung itu mampu membuat 100 porsi setiap malam. Tetapi pelanggan yang datang hanya 60 orang.
Dalam keadaan seperti itu, masalahnya adalah permintaan atau demand. Solusinya cukup jelas: promosi, diskon, menaikkan daya beli pelanggan, memperbanyak kredit, atau mungkin memasang tulisan besar: “Nasi Goreng Terenak Se-RT.”
Kalau kemudian pelanggan naik menjadi 90 orang, produksi ikut meningkat.
Dalam ekonomi nasional, logikanya mirip. Kalau pabrik menganggur, pengangguran tinggi dan masyarakat menahan belanja, pemerintah dapat meningkatkan pengeluaran, bank sentral dapat menurunkan suku bunga, kredit dapat diperluas.
Inilah yang biasa disebut demand-side policy. Dalam bahasa ekonomi:
Permintaan = konsumsi + investasi + belanja pemerintah + ekspor neto.
Masalah muncul ketika warung tadi sudah kedatangan 120 pelanggan, sementara dapurnya hanya sanggup membuat 100 porsi.
Promosi tambahan tidak akan menghasilkan 150 porsi.
Yang terjadi mungkin justru antrean semakin panjang dan harga naik.
Sekarang masalahnya bukan lagi pelanggan. Masalahnya adalah kapasitas produksi.
Warung memerlukan kompor tambahan, koki yang lebih terampil, dapur lebih besar, pasokan bahan baku yang lebih lancar, atau teknologi pemesanan yang lebih efisien.
