OPINI: Bukan Real Madrid, Bukan Milan: Dunia Kini Menoleh ke Como—dan Ada Indonesia di Baliknya

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Karena itu, membangun “Como-Como” di Indonesia bukan berarti sekadar mencari konglomerat untuk membeli klub. Yang dibutuhkan adalah investor sabar, manajemen profesional, tata kelola transparan, akademi yang kuat, stadion yang aman, serta strategi yang menyatukan klub dengan ekonomi kotanya.

Pertama, setiap klub harus memiliki identitas dan rencana bisnis jangka panjang. Klub tidak boleh hidup hanya dari satu musim kompetisi atau satu figur pemilik.

Kedua, pemerintah daerah harus melihat klub sebagai bagian dari strategi pembangunan wilayah, tetapi bukan dengan mencampuri keputusan teknis atau membebani APBD. Peran pemerintah adalah menyediakan regulasi, infrastruktur, konektivitas, keamanan, dan kerja sama antarpelaku.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Kinerja BPR/S Kepri Tumbuh Kuat, Kredit Naik 10,74 Persen hingga Juni 2026

Ketiga, stadion harus dikembangkan sebagai pusat kegiatan masyarakat. Stadion dapat menjadi tempat pertandingan, konser, museum klub, pusat olahraga, kawasan kuliner, ritel, pendidikan, serta kegiatan UMKM.

Keempat, klub harus berinvestasi pada pemain muda. Akademi bukan kegiatan sosial tambahan, melainkan fondasi keberlanjutan prestasi dan bisnis.

Kelima, pendukung harus ditempatkan sebagai pemilik emosional klub. Mereka bukan sekadar pembeli tiket. Mereka harus memperoleh ruang dialog dan menjadi bagian dari perjalanan klub, termasuk ketika keputusan sulit harus dibuat.

Keenam, Indonesia perlu membangun industri olahraga sebagai industri sungguhan: memiliki data, standar pengelolaan, pembiayaan, perlindungan investor, hak siar yang sehat, kompetisi yang kredibel, serta ukuran dampak ekonomi dan sosial.

BACA JUGA:  Serap Aspirasi di Enam Lokasi, Hendra Asman 'Kumpulkan' Keluhan Warga

Kebanggaan yang Harus Diubah Menjadi Keyakinan

Como tidak memberi kita alasan untuk merasa bahwa Indonesia telah memenangkan sepak bola Eropa. Kesimpulan seperti itu terlalu berlebihan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *