OPINI : Anak-Anak Muda Statistik

Big data membuat semua denyut itu meninggalkan jejak. AI dapat membaca jejak itu dengan kecepatan yang tak mungkin dilakukan manusia biasa. Algoritma dapat mendeteksi anomali, menemukan pola, mengelompokkan wilayah, memperkirakan risiko, membaca rantai pasok, memetakan kebutuhan infrastruktur, bahkan membantu pemerintah menyusun prioritas anggaran yang lebih tajam.
Saya membayangkan masa depan yang tidak terlalu jauh. Seorang kepala daerah membuka dasbor dan melihat peta hidup wilayahnya: desa mana yang ekonominya tumbuh tetapi jalannya rusak; kecamatan mana yang UMKM-nya banyak tetapi akses perbankannya rendah; wilayah mana yang punya bakat ekonomi kreatif tetapi sinyal internetnya lemah; daerah mana yang butuh gudang pendingin, balai pelatihan, pasar induk, atau transportasi logistik. Seorang pengambil keputusan tidak lagi hanya menerima laporan tebal yang dibaca menjelang rapat, tetapi melihat denyut ekonomi dalam waktu hampir nyata, dapat menyusun kebijakan berbasis bukti, bukan sekadar tekanan politik atau kedekatan dengan elite semata.

Dalam imajinasi saya, data dan algoritma menjadi perangkat moral negara. Ia membantu kekuasaan lebih adil, lebih presisi, lebih rendah hati. Bantuan sosial tidak jatuh karena kedekatan. Kredit usaha tidak berhenti pada mereka yang sudah kuat. Pelatihan digital tidak diberikan secara seremonial, tetapi diarahkan pada wilayah yang benar-benar membutuhkan. Jalan dibangun bukan karena suara paling keras, melainkan karena data menunjukkan di sanalah biaya logistik rakyat paling berat.
Tetapi syaratnya: data harus bersih, metode harus benar, privasi harus dijaga, dan algoritma harus dapat diaudit. AI yang diberi data kotor akan menghasilkan keputusan yang kotor pula. Model yang dibangun dari data timpang akan memperpanjang ketimpangan. Karena itu, sensus ini menjadi jangkar dalam samudra big data.

Saya kembali menatap anak-anak muda itu. Mereka mungkin tidak sedang memikirkan data, matriks, algoritma, atau masa depan tata kelola negara. Mungkin pagi itu yang mereka pikirkan hanya rute lapangan, daftar responden, baterai gawai, sinyal internet, target harian, dan cara menjelaskan kepada warga bahwa data sensus dijaga kerahasiaannya.

Bacaan Lainnya

Pos terkait