Negeri Kaya yang Terlalu Sibuk Mengurus Izin Menjadi Kaya (1 – 5)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Inklusif atau Ekstraktif?

Acemoglu membedakan institusi menjadi dua kelompok besar: inklusif dan ekstraktif.

Institusi inklusif membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar, bekerja, berusaha, berinovasi, dan menikmati hasil jerih payahnya. Hukum dapat diprediksi, persaingan dijaga, pendidikan tersedia, dan mobilitas sosial dimungkinkan.

Bacaan Lainnya

Institusi ekstraktif bekerja sebaliknya. Kekayaan dan kesempatan terkonsentrasi pada kelompok terbatas. Izin menjadi pagar, regulasi menjadi alat melindungi pemain lama, dan kedekatan lebih berharga daripada produktivitas.

Dalam sistem yang terlalu ekstraktif, pengusaha tidak lagi bertanya, “Produk apa yang dapat saya ciptakan?”

Ia bertanya, “Siapa yang harus saya kenal?”

Anak muda tidak bertanya, “Keahlian apa yang perlu saya kuasai?”

Ia mulai bertanya, “Lingkaran mana yang harus saya masuki?”

Kalau hubungan lebih menguntungkan daripada inovasi, negara sebenarnya sedang memberikan insentif terbesar bukan kepada produktivitas, melainkan kepada pencarian rente.

Investasi Belum Tentu Transformasi

Indonesia membutuhkan investasi, infrastruktur, industrialisasi, dan hilirisasi. Semuanya penting. Namun Why Nations Fail mengingatkan bahwa besarnya investasi belum otomatis menunjukkan luasnya manfaat pembangunan.

Pabrik dapat berdiri, ekspor dapat meningkat, dan nilai tambah dapat tercatat dalam statistik. Namun kita tetap perlu bertanya:

Pos terkait