Menperin Bidik Utilisasi Industri 85 Persen, Pasokan Bahan Baku Jadi Kunci Dongkrak Ekonomi

Bahkan, substitusi impor senilai Rp400 triliun diperkirakan berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,71 persen dan menghasilkan tambahan output ekonomi Rp627,58 triliun.

“Kita ingin industri kita lebih berdaulat, kita ingin industri kita menjadi tuan rumah di negara sendiri,” ujarnya.

Hilirisasi Harus Berlanjut hingga Produk Jadi

Bacaan Lainnya

Selain meningkatkan utilisasi pabrik, pemerintah juga mendorong transformasi industri melalui hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar.

BACA JUGA:  MT Mauhau Evakuasi 16 Korban KMP Virgo Transport 08 yang Hilang Kontak di Laut Jawa

Sarmuji mengingatkan agar pengembangan industri tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah atau produk setengah jadi, tetapi harus berlanjut hingga menghasilkan barang jadi.

Salah satu contohnya adalah pengembangan industri nikel yang dapat membentuk rantai produksi terintegrasi, mulai dari pengolahan bijih, produk antara, komponen baterai hingga kendaraan listrik.

Pengembangan tersebut diharapkan turut mendorong tumbuhnya industri pendukung, permesinan, logistik, dan berbagai sektor jasa.

Pemerintah juga melihat potensi besar pengembangan industri berbasis sumber daya alam Indonesia, seperti kelapa sawit, kelapa, rumput laut, sagu, dan keanekaragaman hayati.

Rumput laut, misalnya, berpotensi diolah menjadi bahan baku kosmetik, farmasi, serta industri makanan dan minuman. Sementara itu, pengembangan kawasan industri berbasis sagu direncanakan di Kabupaten Seram Bagian Timur.

BACA JUGA:  Batam Raih Penghargaan Badan Publik Informatif 2025

Saat ini Indonesia memiliki 181 kawasan industri dengan tingkat utilisasi sekitar 57,20 persen. Artinya, masih terdapat ruang untuk mengoptimalkan kawasan industri yang telah tersedia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *