Menperin Bidik Utilisasi Industri 85 Persen, Pasokan Bahan Baku Jadi Kunci Dongkrak Ekonomi

Jika tidak segera dipenuhi, kekurangan bahan baku tersebut berpotensi mengganggu bahkan menghentikan kegiatan produksi perusahaan.

Persoalan serupa juga dialami industri bihun yang membutuhkan beras pecah sebagai bahan baku. Harga beras pecah di pasar internasional berada di kisaran Rp5.700 hingga Rp6.000 per kilogram, sedangkan harga di dalam negeri mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut dinilai memberikan tekanan terhadap daya saing industri nasional. Pemerintah kini berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mencari solusi pasokan bahan baku dengan harga yang lebih kompetitif, tanpa mengabaikan kondisi persediaan beras nasional.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Berbagi Semangat Lebaran Melalui Program SEBARAN 5.0

“Dengan mencukupi hal-hal tadi itu, salah satu di antaranya bahan baku, maka utilisasi sektor industri kita akan meningkat,” katanya.

Di tengah tantangan tersebut, Sarmuji menegaskan industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan kinerja ekspansif.

Pada triwulan II-2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Sepanjang 2025, industri pengolahan juga tumbuh 5,3 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen.

Kontribusi sektor manufaktur juga terlihat dari kinerja perdagangan dan investasi. Hingga Agustus 2026, nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$159,55 miliar atau setara 82,40 persen dari total ekspor nasional.

BACA JUGA:  Batam Tarik Investasi Rp33 Triliun, Infrastruktur Jadi Daya Tarik Utama

Sektor ini juga menyumbang 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional. Sementara penyerapan tenaga kerja industri pengolahan hingga Mei 2026 mencapai 19,98 juta orang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *