IDNNews.co.id, BATAM – Ketegangan geopolitik yang terus memanas di berbagai kawasan dunia kembali menimbulkan efek domino terhadap sektor energi global. Awal 2026 ditandai dengan konflik bersenjata di Timur Tengah yang menjadi salah satu pemicu terbesar gangguan pasokan energi dalam sejarah pasar minyak modern.
Dampaknya terasa luas: harga minyak melonjak tajam, biaya energi membengkak, hingga ancaman krisis energi membayangi sejumlah negara.
Ketua Umum Forum Masyarakat Peduli Batam Maju, Osman Hasyim saat dihubungi KE Groups pada Sabtu (28/3/2026) pagi menilai, situasi global ini bukan hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga menekan stabilitas ekonomi dunia dan memperlemah kepercayaan investor.
Konflik di wilayah produsen minyak dunia telah mengganggu jalur distribusi vital, termasuk Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Gangguan distribusi tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak hingga menembus level USD 100 per barel.
Lonjakan harga energi ini membawa dampak berantai yang signifikan. Harga bahan bakar naik, tarif logistik meningkat, dan biaya produksi industri ikut terdongkrak di berbagai negara. Negara-negara yang bergantung pada impor energi menghadapi tekanan inflasi yang semakin besar, sementara pelaku usaha dipaksa menyesuaikan strategi untuk menekan biaya operasional.
Menurut Osman, efeknya tidak hanya dirasakan negara maju, tetapi juga negara berkembang yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.









