“Kekuatan stok kita sekitar tiga bulan. Selain itu, pasokan tambahan sekitar 2.000 ton sedang dalam proses pengiriman dari Pulau Jawa. Untuk beras premium, sekitar 1.500 ton juga telah kami masukkan pada Maret lalu,” jelas Guido.
Ia menambahkan, Bulog akan terus melakukan pengadaan secara berkala guna memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga sepanjang tahun.
Terkait minyak goreng bersubsidi “Minyak Kita”, Guido menjelaskan bahwa saat ini distribusi difokuskan untuk program bantuan pangan. Kondisi tersebut menyebabkan ketersediaan di pasar umum menjadi terbatas, meskipun harga masih sesuai HET.
“Harga Minyak Kita saat ini sekitar Rp15.700 per liter sesuai catatan aplikasi, meski di beberapa wilayah seperti Karimun masih ada yang di atas HET. Kami terus berupaya agar distribusi bisa lebih merata,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa Bulog tidak memiliki stok khusus untuk langsung mendistribusikan minyak goreng ke pasar, sehingga koordinasi lintas instansi menjadi kunci dalam mengatasi kekosongan pasokan.
Kunjungan kerja ini menegaskan pentingnya sinergi antara DPR, pemerintah daerah, dan Bulog dalam menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah kepulauan. Dengan tantangan distribusi yang lebih kompleks, penguatan logistik dan penambahan stok menjadi prioritas utama agar masyarakat tetap mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Diharapkan, hasil kunjungan ini dapat mendorong kebijakan strategis dari pemerintah pusat untuk memperkuat ketahanan pangan di Batam dan Kepulauan Riau secara berkelanjutan. (Iman Suryanto)
