Ketika Modal Menjadi Pemilih (2-Habis)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Persoalan utamanya adalah arus kas.

Ketika suku bunga naik, cicilan meningkat. Ketika rupiah melemah, bahan baku impor menjadi lebih mahal. Ketika permintaan melemah, persediaan menumpuk. Ketika pembayaran proyek terlambat, modal kerja terganggu.

Perusahaan besar masih dapat menerbitkan obligasi atau melakukan lindung nilai. Perusahaan menengah sering kali bergantung pada kredit perbankan dengan tenor lebih pendek.

Bacaan Lainnya

Mereka menjadi kelompok yang paling mudah terjepit.

Dalam teori keuangan, kondisi ini berkaitan dengan financial accelerator. Gangguan kecil pada nilai tukar atau tingkat bunga dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar karena melemahkan neraca perusahaan, menurunkan nilai agunan, dan mempersempit akses kredit.

Namun, justru pada kelompok ini terdapat peluang besar bagi Indonesia.

Ketika rantai pasok global menjadi lebih mahal dan tidak pasti, perusahaan menengah dalam negeri dapat mengambil peran melalui substitusi impor, jasa industri, logistik, pengolahan pangan, peralatan, perawatan mesin, komponen, dan ekonomi sirkular.

Syaratnya, mereka harus naik kelas dari pemasok murah menjadi pemasok andal.

Strategi mereka perlu lebih disiplin: mengurangi utang valas tanpa pendapatan valas, mengunci harga input penting, memperbaiki manajemen persediaan, memperpanjang tenor pinjaman, dan membangun kontrak pembelian jangka menengah.

Dalam dunia yang lebih mahal, pertumbuhan tanpa manajemen kas adalah keberanian yang keliru.

Investor Kecil: Paling Mudah Masuk, Paling Mudah Terluka

Investor kecil terdiri atas dua kelompok.

Pertama, investor ritel yang membeli saham, obligasi, reksa dana, emas, atau aset keuangan lainnya.

Kedua, pelaku usaha kecil yang menanamkan tabungannya untuk membuka toko, membeli mesin, memperbesar usaha, atau membangun usaha digital.

Pos terkait