Sebelumnya, Indonesia telah lebih dahulu menjalin kerja sama LCS dengan sejumlah negara mitra utama, antara lain Malaysia, Thailand, Jepang, dan China. Melalui skema ini, eksportir dan importir dapat langsung menggunakan mata uang lokal masing-masing negara, sehingga risiko nilai tukar akibat volatilitas dolar AS dapat ditekan.
Tak hanya dari sisi stabilitas, penerapan LCS juga terbukti mampu meningkatkan efisiensi biaya transaksi dan memperlancar arus perdagangan. Hal tersebut tercermin dari nilai transaksi LCS yang terus mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang 2025.
Destry mencatat, hingga November 2025, nilai transaksi LCS sejak awal tahun telah mencapai US$ 22,13 miliar, atau setara Rp 369,56 triliun dengan asumsi kurs Rp16.699 per dolar AS. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“November LCS year to date-nya US$ 22,13 miliar. Ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar US$ 12,5 miliar,” jelas Destry.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa pelaku usaha nasional mulai semakin percaya dan nyaman menggunakan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara.
Ke depan, BI optimistis perluasan kerja sama LCS dengan negara-negara baru akan semakin memperkuat stabilitas rupiah, memperdalam pasar keuangan domestik, serta mendukung ketahanan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.(**)
