Menurutnya, meningkatnya pergerakan manusia akan berdampak langsung pada perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Mobilitas manusia yang semakin tinggi berdampak langsung pada perdagangan dan kemajuan ekonomi. Hubungan antara kedua negara menjadi semakin intens, dan kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan keterlibatannya,” ujarnya.
Siti melihat perkembangan saat ini sebagai bentuk baru dari konsep kerja sama ekonomi regional SIJORI yang pernah berkembang sebelumnya.
Konsep tersebut menghubungkan Singapura, Johor, dan Kepulauan Riau dalam satu kawasan pertumbuhan ekonomi yang saling mendukung.
Kini, dengan hubungan Johor dan Singapura yang semakin erat, peluang bagi Indonesia dinilai kembali terbuka lebar.
“Kalau dulu kita mengenal SIJORI, sekarang peluangnya muncul lagi dalam bentuk yang berbeda. Indonesia harus mampu mengambil manfaat dari perkembangan ini,” katanya.
Salah satu peluang terbesar datang dari perpindahan industri dari Singapura ke Johor.
Biaya operasional yang lebih rendah serta ketersediaan lahan membuat banyak perusahaan mulai memindahkan sebagian aktivitas produksinya ke Malaysia.
Siti menilai tren tersebut dapat berlanjut ke Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
“Banyak industri yang sebelumnya berada di Singapura kini berpindah ke Johor. Dalam jangka panjang, sebagian investasi itu juga berpotensi masuk ke Indonesia. Karena itu, peluang ini harus dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya.
Proyek RTS Link sendiri terus menunjukkan perkembangan signifikan. Kereta pertama untuk layanan tersebut telah diperkenalkan dalam sesi pratinjau di Singapore Rail Test Centre (SRTC).
RTS Link dijadwalkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Jalur ini akan menghubungkan Stasiun Bukit Chagar di Johor Bahru dengan Stasiun Woodlands North di Singapura hanya dalam waktu sekitar lima menit.
Peresmian kereta pertama dilakukan Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke bersama Pelaksana Tugas Menteri Transportasi Singapura Jeffrey Siow.
Anthony Loke menegaskan RTS Link bukan sekadar proyek transportasi. Menurutnya, proyek tersebut menjadi simbol eratnya kerja sama antara Malaysia dan Singapura.
Ia juga menilai RTS Link mencerminkan hubungan persahabatan, kepercayaan, serta saling menghormati antara kedua negara di tengah tantangan ekonomi global.
RTS Link akan dilengkapi fasilitas Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina (CIQ) yang terintegrasi di stasiun keberangkatan. Sistem ini akan mempercepat pergerakan penumpang lintas negara.
Secara keseluruhan, jalur kereta sepanjang sekitar empat kilometer tersebut akan menjadi penghubung darat ketiga antara Malaysia dan Singapura. Kehadirannya juga diharapkan mampu mengurangi kemacetan kronis di Tambak Johor.
Bagi Indonesia, terutama Kepulauan Riau, proyek ini berpotensi menghadirkan efek berganda. Mulai dari peningkatan perdagangan, masuknya investasi baru, berkembangnya sektor jasa, hingga peluang relokasi industri yang dapat menciptakan lapangan kerja baru di kawasan. (***)
