Secara nasional, hasil survei menunjukkan masih terdapat kesenjangan literasi dan inklusi keuangan berdasarkan wilayah. Masyarakat yang tinggal di perkotaan memiliki indeks literasi keuangan sebesar 72,54 persen dan inklusi 95,47 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan masyarakat di wilayah perdesaan yang masing-masing mencapai 64,42 persen untuk literasi dan 90,39 persen untuk inklusi keuangan.
Literasi Keuangan Naik, tetapi Tantangan Masih Ada
SNLIK 2026 melibatkan 75.000 responden berusia 15 hingga 79 tahun yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Pendataan dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan metode Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) pada 26 Januari hingga 18 Februari 2026 dengan melibatkan 3.480 petugas.
Hasil survei menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat laki-laki dan perempuan relatif setara. Literasi keuangan laki-laki tercatat 69,54 persen, sedangkan perempuan 69,61 persen.
Untuk inklusi keuangan, laki-laki mencapai 93,49 persen dan perempuan 93,73 persen.
Berdasarkan kelompok usia, masyarakat berusia 26–35 tahun mencatat tingkat literasi dan inklusi keuangan tertinggi. Indeks literasinya mencapai 78,70 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 96,27 persen.
Sementara itu, kelompok usia 15–17 tahun menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian karena memiliki indeks literasi keuangan sebesar 56,04 persen.
Pendidikan Berpengaruh terhadap Literasi Keuangan
SNLIK 2026 juga menemukan adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan literasi dan inklusi keuangan.
Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, semakin tinggi pula indeks literasi dan inklusi keuangannya.
Masyarakat yang tidak atau belum pernah sekolah hingga tidak tamat SD memiliki indeks literasi keuangan sebesar 45,23 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 59,67 persen untuk lulusan SD, 67,72 persen untuk lulusan SMP, 79,17 persen untuk lulusan SMA, dan mencapai 93,46 persen pada lulusan perguruan tinggi.
