Selain pembangunan infrastruktur, kemitraan Indonesia dan Uni Eropa juga mencakup investasi strategis, transfer teknologi, serta penguatan konektivitas berkelanjutan sebagai bagian dari pengembangan sektor transportasi nasional.
Sementara itu, Designated Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta, Oliver Sperling, menegaskan Jerman telah lama menjadi mitra Indonesia dalam pembangunan infrastruktur transportasi.
Ia menyatakan perusahaan-perusahaan Jerman dan Eropa siap mendukung modernisasi transportasi Indonesia melalui penyediaan teknologi inovatif, keahlian teknis, dan solusi berkelanjutan.
“Perusahaan-perusahaan Jerman dan Eropa siap bekerja sama mendukung Indonesia mewujudkan sistem transportasi yang tangguh terhadap perubahan iklim dan berorientasi pada masa depan,” katanya.
Kemitraan tersebut juga membahas berbagai isu strategis, mulai dari integrasi transportasi multimoda, pengembangan Transit-Oriented Development (TOD), peluang investasi dan pembiayaan, hingga penguatan kerja sama internasional dalam pembangunan transportasi rendah karbon.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam forum Indonesia-Europe Roundtable on Sustainable Transport Development yang digelar bersamaan dengan RailwayTech Indonesia 2026. Forum yang diselenggarakan oleh Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA), Uni Eropa, Pemerintah Jerman, dan KfW Development Bank itu mempertemukan pemerintah, pelaku industri, lembaga pembiayaan, serta para pakar transportasi.
Melalui penguatan kolaborasi antara sektor publik dan swasta, Indonesia dan Uni Eropa berharap kerja sama ini mampu membuka peluang investasi baru, mempercepat penerapan teknologi transportasi modern, serta mendorong terwujudnya sistem transportasi nasional yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
SUMBER: KOMPAS










