“Kami optimistis kegiatan budaya seperti ini mampu mendorong perputaran ekonomi lokal sekaligus memperkuat citra Kepulauan Riau sebagai daerah yang aman, nyaman, dan ramah bagi siapa pun,” ungkapnya.
Sementara itu, AHY pun mengapresiasi hangatnya sambutan masyarakat Batam. Ia menyebut suasana Imlek di Nagoya sebagai gambaran nyata Indonesia yang majemuk namun tetap solid.
Malam itu, tawa anak-anak, obrolan hangat keluarga, hingga swafoto warga bersama para pemimpin daerah menjadi pemandangan yang menegaskan satu hal: Imlek bukan sekadar pergantian tahun, tetapi juga tentang memperbarui semangat persaudaraan.
Di bawah cahaya lampion yang temaram, Batam kembali menunjukkan jati dirinya—sebuah kota yang merawat perbedaan dalam bingkai kekeluargaan, menjadikan Imlek dan filosofi Kuda Api sebagai energi pemersatu sekaligus penguat toleransi sosial di Kepulauan Riau. (Iman)
