Menanam Mangrove di Sungai Tiram: Menjaga Pesisir, Menanam Harapan
Puncak rangkaian HPN 2026 ditutup dengan penanaman mangrove di Sungai Tiram, Desa Penaga, Bintan. Di kawasan pesisir yang pernah rusak akibat alih fungsi lahan, KJK kembali turun ke lumpur menanam mangrove bersama masyarakat dan pegiat lingkungan.
Penanaman ini merupakan bagian dari kerja panjang sejak 2010, bahkan melibatkan mitra pecinta mangrove dari Jepang. Mangrove ditanam bukan untuk seremoni, melainkan sebagai benteng abrasi dan warisan bagi generasi mendatang.
“Menanam mangrove bukan pekerjaan satu hari. Ini komitmen jangka panjang untuk melindungi pesisir dan kehidupan masyarakat,” tegas Ady.
Kegiatan ini turut dihadiri Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepri yang mewakili Kementerian Kehutanan, menandakan bahwa gerakan yang tumbuh dari komunitas pers ini memiliki arti strategis bagi keberlanjutan lingkungan.
Filosofi Mangrove: Persatuan dalam Akar yang Menyilang
Lebih dari sekadar tanaman, mangrove membawa filosofi mendalam. Akar-akarnya yang saling silang-menyilang menggambarkan persatuan, perlindungan, dan gotong royong. Seperti itulah cara menghadapi tantangan pesisir—tidak berdiri sendiri, tetapi saling menopang.
Dalam anyaman akar mangrove itu, KJK memaknai bahwa persoalan lingkungan, kemanusiaan, dan masa depan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia menuntut kebersamaan yang kuat dan berkelanjutan antara pers, masyarakat, dan negara.










