Gurindam Tadbir Pemimpin (Tujuh Pasal)

Pasal Keempat: Mengekang Tamak dan Nafsu Kuasa

Jika kuasa dijadikan megah,
Banyaklah urusan menjadi tegah.
Hati yang buta karena harta,
Membuat diri hilanglah serta.
Apabila saku diutamakan,
Marwah sendiri yang dikorbankan.
Jikalau haloba merasuki budi,
Tiadalah subur tanaman padi.
Megah bertakhta melupa diri,
Ibarat berjalan menusuk duri.
Jangan mengambil haknya kaum,
Nanti di akhirat mendapat ranyum.
Kekuasaan itu sekadar pinjaman,
Janganlah sampai merusak zaman.

Pasal Kelima: Kebijaksanaan dan Ketajaman Fikiran

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Syafrida Rasahan Soroti Akar Masalah Pilkada. 'Calon Tunggal, Dinasti Politik hingga Regulasi yang Membingungkan Publik'

Sebelum berjalan pandang ke muka,
Agar tak membawa rakyat ke duka.
Apabila pemimpin kurang fikiran,
Kusutlah adat hilang aturan.
Sesuatu perkara hendaklah diperiksa,
Supaya tidak tersalah paksa.
Janganlah lekas menerima khabar,
Selidik dahulu dengan bersabar.
Fikiran yang jernih membawa tuah,
Segala rancangan menjadi buah.
Jikalau pemimpin bertindak melulu,
Seisi negeri menanggung malu.
Suluh yang terang dipasang selalu,
Supaya jalan tak salah melalui.

Pasal Keenam: Menjauhkan Kesombongan Angkara

Jikalau diri merasa tinggi,
Hilanglah tuah runtuhlah rugi.
Siapa gemar memutus runding,
Senantiasa hidup di balik dinding.
Angkuh itu sifatnya seteru,
Janganlah ia dijadikan guru.
Apabila megah melampaui batas,
Kasihnya rakyat terpotong retas.
Di atas langit ada lagi langit,
Jangan bertingkah urusan berbelit.
Turunkan ego rendahkan bahu,
Supaya kesusahan rakyat kau tahu.
Siapa sombong memandang rendah,
Akhir hayatnya tidaklah indah.

BACA JUGA:  Kementerian Transmigrasi Gandeng Qatar dan Kampus Top Bangun Pendidikan di Barelang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *