Waktu Erupsi Berikutnya Tidak Bisa Dipastikan
Suwarno juga menegaskan bahwa tidak ada alat atau metode yang dapat memastikan Gunung Anak Krakatau akan kembali erupsi pada tanggal atau jam tertentu.
Potensi terjadinya erupsi berikutnya dinilai berdasarkan perkembangan aktivitas kegempaan yang terekam melalui peralatan pemantauan.
Beberapa parameter yang diperhatikan antara lain gempa dangkal, gempa dalam, tremor, hembusan, dan low frequency.
“Kalau itu semuanya ada peningkatan lagi, mungkin bisa juga akan kembali erupsi. Tapi tidak tahu antara besar dan kecilnya,” katanya.
Menurut Suwarno, besar atau kecilnya erupsi bergantung pada dorongan energi yang berada di bawah tubuh gunung api.
Dengan demikian, masyarakat diminta tidak mempercayai informasi yang mengklaim dapat memastikan waktu maupun kekuatan erupsi Gunung Anak Krakatau berikutnya.
Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga
Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
Dengan status tersebut, masyarakat tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku, termasuk tidak mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Meski aktivitas erupsi mulai mereda, potensi abu vulkanik kembali beterbangan masih perlu diwaspadai selama kondisi cuaca tetap kering dan angin masih membawa material abu yang telah mengendap.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari petugas pemantauan gunung api dan tidak mudah menyimpulkan bahwa setiap kemunculan abu merupakan tanda terjadinya erupsi baru.
SUMBER: KOMPAS
