Pembiayaan korporasi bahkan meningkat 37 persen, sedangkan kredit UMKM tumbuh 13,21 persen, menandakan geliat dunia usaha dan konsumsi masyarakat yang semakin menguat.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri didorong oleh investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,81 persen, seiring membaiknya iklim investasi PMA dan PMDN pasca terbitnya PP Nomor 25 dan 28 Tahun 2025. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 3,84 persen, didukung Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap optimistis di level 122,29.
Sementara itu, kinerja ekspor bersih masih solid dengan pertumbuhan 20,52 persen.
Bank Indonesia juga mencatat akselerasi digitalisasi ekonomi melalui QRIS. Sepanjang 2025, volume transaksi QRIS di Kepri mencapai 99,44 juta transaksi, melonjak hampir tiga kali lipat atau tumbuh 192,69 persen (yoy), dengan nilai transaksi menembus Rp11,54 triliun.
Transaksi QRIS lintas negara dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura pun terus menunjukkan tren peningkatan.
Di tengah laju pertumbuhan tersebut, inflasi Kepri tetap terkendali. Sepanjang 2025, inflasi tercatat sebesar 3,47 persen (yoy), masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen. Tekanan inflasi terutama berasal dari emas perhiasan, cabai merah, angkutan udara, cabai rawit, dan daging ayam.
Ke depan, Ronny optimistis ekonomi Kepri tetap tumbuh positif, ditopang pengembangan KEK, kawasan industri, serta proyek strategis nasional. Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga terus memperkuat strategi 4Kn(keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif) guna menjaga stabilitas harga.(***)










