Ekonomi Indonesia Hadapi ‘Awan Gelap’ Global, Perry Warjiyo: “Kuncinya Satu, Sinergi!”

Perry memaparkan lima karakteristik utama yang membuat prospek ekonomi global tahun 2026–2027 tampak meredup:
1. Kebijakan proteksionisme dan regionalisme meningkat
Amerika Serikat terus memperketat kebijakan industrinya, membuat perdagangan global melemah. Arus barang dan rantai pasok global menjadi lebih terbatas, menekan banyak negara berkembang.

2. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia
Ekonomi dunia diprediksi tumbuh lebih lambat, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok.
“Uni Eropa, India, dan Indonesia masih cukup baik, namun tekanan global membuat ruang gerak kebijakan semakin sempit,” ujarnya.

3. Inflasi turun lebih lambat
Turunnya inflasi global yang tersendat membuat bank sentral di berbagai negara sulit menurunkan suku bunga. Negara-negara maju dibayangi beban utang tinggi, sementara negara berkembang menghadapi ongkos fiskal yang makin berat.

Bacaan Lainnya

4. Kerentanan sistem keuangan makin tinggi
Perry menyoroti maraknya transaksi produk derivatif berisiko tinggi, terutama yang melibatkan cash fund dan machine trading.
“Ini meningkatkan risiko pelarian modal dan tekanan nilai tukar di negara-negara emerging market,” imbuhnya.

5. Ledakan uang kripto dan stablecoin swasta
Lonjakan penggunaan aset kripto tanpa pengawasan memadai dinilai berpotensi menimbulkan risiko sistemik. Karena itu, Perry kembali menekankan urgensi penguatan kebijakan Central Bank Digital Currency (CBDC) yang tengah disiapkan BI.

Pos terkait