“Pelaku industri kini dihadapkan pada pilihan sulit. Biaya produksi meningkat akibat pelemahan kurs, tetapi harga jual tidak mudah dinaikkan. Menaikkan harga saat ekonomi masyarakat sedang tertekan tentu bukan pilihan yang bijak,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini sebagian besar konsumen lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok dan barang-barang primer.
Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap berbagai produk non-primer cenderung melemah sehingga pelaku usaha harus berhitung lebih cermat dalam menjaga keberlangsungan usahanya.
Lebih lanjut, Suyono mengkhawatirkan potensi pengurangan kapasitas produksi yang dapat dilakukan sejumlah industri apabila tekanan biaya terus berlanjut. Jika perusahaan memilih memangkas produksi untuk menjaga efisiensi, maka risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) akan semakin besar.
“Pengurangan produksi oleh pelaku industri bisa memicu gelombang PHK. Jika ini terjadi, maka pertumbuhan ekonomi pada triwulan II berpotensi merosot dan jauh meleset dari berbagai proyeksi yang selama ini disampaikan,” tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah ekonom memperkirakan laju inflasi Indonesia pada Mei 2026 mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
