“Beberapa kendala di antaranya belum tersedianya dapur di sejumlah unit, serta fasilitas lain seperti tempat penyimpanan alat tangkap yang masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Pihak pengelola, lanjut dia, terus mempercepat penyelesaian kebutuhan tersebut agar masyarakat dapat segera berpindah dan menjalankan aktivitas secara normal.
“Begitu fasilitas itu terpenuhi, mereka akan langsung pindah. Target kami, seluruh proses relokasi ini bisa selesai dalam semester pertama tahun 2026,” tegasnya.
Program relokasi ini merupakan bagian dari percepatan pengembangan kawasan industri strategis di Tanjung Sauh yang dirancang untuk menjadi salah satu pusat investasi dan industri maritim baru di Batam.
Selain penataan kawasan pesisir, relokasi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui hunian yang lebih tertata dan didukung akses fasilitas dasar seperti air bersih, sanitasi, dan sarana pendukung aktivitas nelayan.
“Intinya, relokasi ini tidak hanya soal pemindahan tempat tinggal, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, agar mereka memiliki lingkungan yang lebih baik dan mendukung aktivitas ekonomi,” tambah Eka.
