Dikelola Artha Graha Peduli Sejak 1996, TWNC Jadi Etalase Konservasi Indonesia di Mata Dunia

Hadir pula sejumlah penerima dan tokoh dari bidang ilmu komputer dan teknologi, antara lain Jack Joseph Dongarra, Martin Edward Hellman, Whitfield Diffie, Richard S. Sutton, Torsten Hoefler dan Gilles Brassard.

Tokoh dari bidang astrofisika, pertanian dan lingkungan seperti Sara Seager dan Howard Yana Shapiro juga turut hadir.

Kehadiran para pemikir tersebut membuat TWNC tidak hanya menjadi lokasi konservasi, tetapi juga ruang dialog mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat digunakan untuk memperkuat keberlanjutan.

Bacaan Lainnya

Salah satu perwakilan penerima Nobel, Laura Anne, menilai keunikan Tambling justru terletak pada ekosistem alaminya yang masih terjaga.

“Tambling adalah tempat yang sangat unik. Ini bukan kebun binatang atau taman, tetapi ekosistem alami di mana satwa, burung, ikan dan seluruh kehidupan di dalamnya masih berjalan dalam keseimbangan,” katanya.

Menurut dia, tantangan terbesar adalah menjaga kawasan tersebut tanpa menghilangkan keasliannya.

“Saya percaya setiap negara membutuhkan tempat seperti ini, agar kita menghargai apa yang kita miliki sebelum kehilangan, karena mengembalikannya jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal,” ujarnya.

Bagi Indonesia, momentum tersebut memberikan pesan bahwa biodiversitas bukan sekadar kekayaan alam yang harus dilindungi, tetapi juga aset strategis untuk membangun ekonomi hijau, memperkuat riset, mengembangkan pengetahuan dan membuka jejaring kerja sama internasional.

Dengan pengalaman pengelolaan selama tiga dekade, TWNC yang dikelola Artha Graha Peduli menunjukkan bahwa investasi jangka panjang pada konservasi dapat menjadi bagian penting dari upaya membangun model pembangunan yang menjaga alam sekaligus menciptakan nilai bagi generasi mendatang.(*)

Pos terkait