Dikelola Artha Graha Peduli Sejak 1996, TWNC Jadi Etalase Konservasi Indonesia di Mata Dunia

Ramos-Horta menilai salah satu pelajaran penting dari Tambling adalah aspek kepemimpinan dalam menjaga kawasan konservasi dalam jangka panjang.

“Satu hal yang bisa dipelajari adalah kepemimpinan. Ini adalah kepemimpinan Tomy Winata. Senang sekali bahwa pemerintah dan masyarakat memberikan tanggung jawab untuk mengurus kawasan ini selama 30 tahun,” ujar Ramos-Horta.

Namun, menurut dia, konservasi tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  BP Batam Gaungkan Gerakan Indonesia ASRI Lewat Gema Batam ASRI

“ Anda tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berhubungan dengan rakyat yang tinggal di sini. Mereka harus merasakannya, percaya padanya. Mereka bukan penonton,” katanya.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan konservasi memiliki dimensi sosial dan ekonomi. Perlindungan alam akan lebih berkelanjutan ketika masyarakat sekitar turut mendapatkan manfaat dan memiliki keterlibatan dalam pengelolaan kawasan.

Melindungi Harimau Sumatra

Salah satu fokus konservasi di TWNC adalah perlindungan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang berstatus Critically Endangered.

Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra di kawasan tersebut menangani dan memulihkan harimau yang mengalami konflik sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.

BACA JUGA:  Prabowo Tegaskan Korporasi Bakar Lahan Akan Dicabut Izinnya

Upaya itu sekaligus menunjukkan bahwa menjaga habitat memiliki konsekuensi ekonomi dan ekologis yang luas. Hutan yang tetap utuh membantu mempertahankan populasi satwa, menjaga fungsi ekosistem, menyimpan karbon dan mengurangi berbagai tekanan terhadap lingkungan, termasuk risiko kebakaran hutan dan lahan.

Ramos-Horta melihat pengalaman Indonesia tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi negara lain.

“Indonesia sendiri adalah contoh untuk seluruh dunia,” ujarnya.

Dari Nobel hingga Teknologi

Kunjungan ke TWNC mempertemukan berbagai bidang keilmuan, mulai dari ekonomi, kimia, fisika, kedokteran, ilmu komputer, kriptografi, astrofisika hingga pertanian dan lingkungan.

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain José Ramos-Horta, peraih Nobel Perdamaian 1996; Frances H. Arnold, Nobel Kimia 2018; Benjamin List, Nobel Kimia 2021; Robert C. Merton, Nobel Ekonomi 1997; Konstantin Novoselov, Nobel Fisika 2010; James A. Robinson, Nobel Ekonomi 2024; Brian Paul Schmidt, Nobel Fisika 2011; serta Kailash Satyarthi, Nobel Perdamaian 2014.

BACA JUGA:  RSBP Bangun Sinergi dengan Kemenkes Guna Memperkuat Rumah Sakit Pendidikan di Batam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *