Rumah Tenun Lingga kini berada di antara dua kepentingan: mempertahankan nilai tradisi dan menjawab tuntutan pasar. Motif tampuk manggis, melati, songket hingga teknik terlepuk bukan sekadar ornamen pada kain. Semuanya menjadi bagian dari identitas yang memberikan pembeda terhadap produk.
Di balik setiap helainya terdapat cerita tentang para pengrajin yang mempertahankan keterampilan tradisional, sekaligus berupaya menjadikan kerajinan tersebut sebagai sumber penghidupan.
Dari Lingga, kain-kain itu perlahan bergerak lebih jauh. Sebagian telah menyeberangi batas wilayah dan masuk ke pasar Malaysia.
Dukungan peralatan dari BI Kepri menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan pasar yang mulai terbentuk dapat diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi dan regenerasi pengrajin.
Sebab, masa depan tenun Lingga bukan hanya ditentukan oleh seberapa mahal sebuah kain dijual.
Lebih jauh dari itu, masa depannya ditentukan oleh apakah keterampilan yang diwariskan dari masa lalu mampu terus hidup, menghasilkan nilai ekonomi, dan menjadi sumber penghidupan bagi generasi berikutnya.
Dari tangan pengrajin Lingga, sehelai kain bukan hanya membawa motif Melayu. Ia membawa tradisi sekaligus peluang ekonomi untuk menembus pasar yang lebih luas. (Iman Suryanto)
