Rumah Tenun Lingga saat ini masih memiliki rencana produksi sekitar 20 lembar kain untuk memenuhi kebutuhan berikutnya.
Bagi produk yang dibuat secara manual, permintaan pasar sekaligus menghadirkan tantangan. Kapasitas produksi harus berjalan beriringan dengan kemampuan tenaga pengrajin.
Di sinilah nilai ekonomi tenun Lingga terlihat. Produk yang proses pembuatannya membutuhkan waktu justru memiliki nilai tambah karena membawa unsur keterampilan dan identitas budaya.
Harga kain pun berada pada segmen premium, dengan produk tertentu dibanderol mulai sekitar Rp2,8 juta hingga Rp5 juta per helai.
Namun, pertumbuhan pasar belum otomatis menyelesaikan persoalan utama di tingkat produksi. Isnawati mengakui jumlah orang yang terlibat dalam pekerjaan menenun masih terbatas. Minat generasi muda untuk menekuni profesi tersebut juga belum banyak.
“Yang bekerja itu belum ramai. Yang minat juga belum banyak,” ujarnya.
Persoalan regenerasi menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan industri tenun Lingga. Sebab, keterampilan membuat kain dengan teknik tradisional tidak cukup hanya diwariskan melalui produk. Pengetahuan tersebut membutuhkan orang yang mau belajar, berlatih, kemudian meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pengembangan UMKM tenun tidak berhenti pada bantuan peralatan. Penguatan sumber daya manusia, peningkatan keterampilan, pengembangan desain, pemasaran, serta pembukaan akses pasar menjadi bagian penting agar industri ini dapat tumbuh secara berkelanjutan.
