​Cadangan Devisis Tebal, BI dan KSSK Jaga Stabilitas Suku Bunga dan Rupiah

Di sektor moneter, rupiah kembali menguat ke level Rp17.994 per dolar AS per 31 Juli 2026, didukung oleh cadangan devisa yang tetap tebal sebesar USD145,6 miliar. Sementara itu, tingkat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 terjaga rendah di level 2,88% yoy.

Kinerja APBN hingga triwulan II 2026 terus menjalankan peran strategis sebagai shock absorber. Realisasi Pendapatan Negara tercatat melesat 21,4% yoy menjadi Rp1.459,4 triliun, terutama ditopang Penerimaan Perpajakan sebesar Rp1.035,7 triliun (tumbuh 24,6% yoy) berkat optimalisasi implementasi sistem Coretax.

Di sisi lain, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp1.656,0 triliun (tumbuh 17,8% yoy) untuk mendanai berbagai program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menyerap anggaran Rp101,1 triliun bagi 63,13 juta penerima, Sekolah Rakyat (Rp13,1 triliun), serta penyaluran bantuan sosial seperti PKH dan Kartu Sembako.

Bacaan Lainnya

Stabilitas perbankan juga terjaga sangat memadai. Kredit perbankan pada Juni 2026 mampu tumbuh double digit sebesar 12,67% yoy menjadi Rp9.080,9 triliun dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross yang sangat terkendali di angka 2,09%. Permodalan bank (Capital Adequacy Ratio/CAR) juga berada pada level tebal yakni 23,70%.

Untuk menjaga momentum, Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan moneter pro-stability dan makroprudensial pro-growth, termasuk menahan BI-Rate di level 5,75% pada RDG Juli 2026 serta memperluas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Pos terkait