BP Batam Siapkan Normalisasi Tiga Waduk dan Opsi Modifikasi Cuaca Antisipasi Dampak El Nino

Waduk Sei Harapan
Waduk Sei Harapan

“Normalisasi waduk merupakan langkah strategis untuk meningkatkan volume tampungan air. Saat ini progres masih dalam proses pengajuan perubahan anggaran,” ujarnya.

Selain fokus pada normalisasi waduk, BP Batam juga menyiapkan langkah mitigasi jangka pendek untuk menghadapi potensi kekeringan. Salah satu opsi yang sedang dijajaki adalah kerja sama dengan BMKG dalam program modifikasi cuaca.

Kerja sama tersebut bertujuan untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah tangkapan air (catchment area) waduk. Langkah ini dinilai penting sebagai solusi cepat jika terjadi penurunan curah hujan signifikan dalam beberapa bulan mendatang.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Deputi Mouris Limanto Tinjau Titik Longsor di Bengkong

Saat ini, BMKG masih melakukan perhitungan kajian teknis terkait efektivitas modifikasi cuaca di wilayah Batam. Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar pengambilan keputusan dalam rapat koordinasi bersama yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ketiga April 2026.

“Penjajakan kerja sama modifikasi cuaca sudah dilakukan. Saat ini masih dalam tahap perhitungan kajian oleh BMKG dan akan dibahas dalam rapat bersama pada pekan ketiga April,” jelas Ariastuty.

Sebagaimana diketahui, Kota Batam sebagai kota industri dan kawasan perdagangan bebas memiliki kebutuhan air bersih yang tinggi. Ketersediaan air tidak hanya penting bagi masyarakat, tetapi juga bagi keberlangsungan sektor industri, pariwisata, dan investasi.

BACA JUGA:  Telkom Catat Pendapatan Konsolidasi Rp36,6 Triliun di Awal Tahun 2025

Karena itu, kombinasi strategi jangka panjang melalui normalisasi waduk serta langkah mitigasi cepat seperti modifikasi cuaca diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan air, terutama saat musim kemarau ekstrem.

BP Batam menegaskan komitmennya untuk terus memprioritaskan ketahanan air sebagai bagian dari pelayanan dasar bagi masyarakat dan dunia usaha di Batam.

Program ini juga diharapkan dapat mengurangi risiko krisis air serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim di masa mendatang. (Iman Suryanto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *